40 Tahun Peperangan Demi Minyak dan Gas Timor-Bagian-III (Habis)

14 04 2014

40 Tahun Peperangan Demi Minyak dan Gas Timor
Konspirasi Untuk Mengeksplorasi Minyak dan Gas Timor Portugis (Timor-Leste)

The Australian

Bagian-III (Habis)

Timor-Leste di desak untuk melakukan beberapa konsensi penting. Apa yang kemudian diketahui sebagai Perjanjian Laut Timor (Timor Sea Treaty) yaitu dikeluarkanya zona utara dan selatan dari Zona Kerjasama (Zone of Co-operation) dengan Indonesia dan tidak memasukan zona yang paling kaya akan sumber-sumbernya di zona Timur dan Barat. Di Zona barat tersebut, saat ini dikelola oleh perusahaan minyak Amerika Serikat, ConnocoPhilips. Di dalam perjanjian Timor Sea Treaty ini sewaktu ditanda tangani oleh Indonesia dan Australia pada tahun 1989, area potensi dan kaya di bagian Barat dan Timur, secara sengaja tidak dituliskan
di dalam perjanjian ini. Justru Australia memasukan zona yang paling minim sumber kekayaanya yaitu zona Utara dan Selatan di dalam perjanjian itu, karena pada waktu itu Indonesia tidak tahu maka ditandatangani saja.

Pada saat ini, Timor-Leste bisa dikatakan mendapatkan 90 persen dari zona kerjasama, akan tetapi untuk zona yang lebih besar sumber kekayaanya yaitu di zona GREATER SUNRISE (zona bagian barat), Timor-Leste hanya mendapatkan 18 persen saja karena didasarkan pada perjanjian antara Indonesia dan AUstralia pada tahun 1989 yang di tanda tangani oleh Ali Alatas dan Menlu Australia pada waktu itu.

 Greater-Sunrise-18-persenya-Di-Area-JPDA-Menurut-Australia-Timor-Sea


Greater-Sunrise-18-persenya-Di-Area-JPDA-Menurut-Australia-Timor-Sea

Persetujuan ini dimaksudkan hanya bersifat sementara pada awalnya. Perjanjian ini juga telah dinegosiasikan oleh UNTAET (misi PBB di Timor-Leste) dengan Australia, di dalam salah satu pasal dalam perjanjian tersebut secara tegas mengatakan bahwa, persetujuan ini bisa saja batal atau invalid bila SEBUAH PERBATASAN LAUT telah disetujui bersama oleh kedua negara. Akan tetapi, AUstralia berharap bahwa perjanjian ini menjadi perjanjian paling akhir di Laut TImor.

Pada hari PEMULIHAN KEMERDEKAAN Timor-Leste yaitu tanggal 20 Mei 2002, Timor-Leste meletakan tawaranya pada penyelesaian yang adil di Rumah Parlemen (direnovasi dengan dana bantuan Australia), Pemerintah Baru Timor-Leste kemudian secara langsung memprioritaskan pembahasan masalah ini dimana para anggota parlemen mendeklarasikan hak-hak negara Timor-Leste dibawah Hukum Internasional dalam menentukan Batas Maritim. Dibawah perjanjian Laut Timor ini, sebuah perjanjian terpisah untuk ladang minyak dan gas GREATER SUNRISE karena ladang minyak dan gas ini terbentang masuk dalam Area Perjanjian yang telah disetujui dalam TIMOR SEA TREATY.

 

Menlu Australia-Alexander Downer -Dalam-Wawancara dengan Stasion TV-ABC

Menlu Australia-Alexander Downer -Dalam-Wawancara dengan Stasion TV-ABC

Di dalam sebuah pertemuan di bulan November 2002, Downer, menekan Timor-Leste untuk menerima tawaran 18 persen dari ladang gas dan minyak ini dengan mengatakan dengan nada keras: “Kita tidak perlu mengeksploitasi sumber-sumber ini. Mereka bisa saja tinggal disitu untuk 20, 40, 50 tahun kedepan. Kami tidak suka menyerempet bahaya dan bisa saja perang. Kami sangatlah kuat. Kami tidak peduli jika kalian membeberkan ini kepada para media. Mari saya ajarkan politik pada anda, bukan sebuah kesempatan.”

Akan tetapi Timor-Leste meneruskan tekananya kepada Australia untuk mencari keadilan, dan hal ini terjadi karena beberapa orang Australia yang bersikap baik, mengirimkan pesan ” fair go” kepada Pemerintah Howard.

Rig-Pengeboran-Bayu-Undan-di-Laut-Timor

Rig-Pengeboran-Bayu-Undan-di-Laut-Timor

Pada akhirnya, upaya-upaya akhir yang baik untuk penyelesaian dengan pembagian 50 – 50 untuk ladang minyak dan gas GREATER SUNRISE terlihat tidak dapat menolong situasi ini juga, walaupun efektif, kampanye iklan yang dilakukan oleh Ian Melrose, seorang businessman dari Melbourne, yang telah memahami masalah-masalah ini setelah ia membaca sebuah surat kabar tentang seorang anak perempuan Timor-Leste yang meninggal dunia akibat cacingan. Hidupnya bisa saja terselamatkan dengan mengkonsumsi tablet 10c. Salah satu iklanya yaitu tentang para veteran Perang Dunia Ke-2 yang mengatakan bahwa, mereka berhutang nyawa kepada para penduduk Timor-Leste karena telah membantu mereka pada Perang Dunia ke-2.

Berikut ini saya juga mengulas singkat tentang Veteran AUstralia pada PErang Dunia ke-2 di Timor-Portugis:


Perlu di ketahui bahwa, Australia juga pernah menduduki Timor-Leste di bulan Desember 1941 pada masa Perang Dunia ke-II. Mendaratnya pasukan Australia yang dibantu oleh pasukan khusus Inggris di Timor-Leste tersebut sebagai upaya negeri Kanguru untuk membendung agresi tentara Samurai Japan yang ingin menyerang Australia. Jadi logikanya, tentara Australia yang jumlahnya tidak terlalu banyak ingin memperlambat  pergerakan tentara Jepang menuju ke Australia. Pendaratan tentara Australia dan Inggris di Timor-Leste tersebut memancing tentara Jepang untuk mendarat di Timor-Leste. Pertempuran sengit tidak dapat dihindarkan lagi. Antara tahun 1942 – 1945, tentara Jepang melakukan kebrutalan terhadap  penduduk sipil Timor-Leste.

Pada masa perang tersebut, banyak warga sipil Timor-Leste bergabung dengan tentara Australia untuk kemudian bersama-sama berperang melawan tentara Jepang. Korban perang dari pihak Timor-Leste mencapai 40.000 hingga 60.000 jiwa, sedangkan dari pihak Australia hanya 40 jiwa.
Pada saat pendaratan tentara Jepang di Timor-Portugis, Pemerintahan Portugal melarikan diri ke Pulau Atauro, yaitu sebuah pulau yang berjarak sekitar 35 KM dari ibukota Dili. “

FILM DI BAWAH INI, AUSTRALIA DI TIMOR PORTUGIS TAHUN 1940an

Akan tetapi persengketaan tersebut berubah menjadi masalah besar bagi Pemerintahan Pertama Timor-Leste yang di komandai oleh Mari Alkatiri sebagai Perdana Menteri. Masalah ini hampir menjerumuskan Timor-Leste dalam perang saudara.
Pada tahun 2006, Mari Alkatiri digulingkan oleh demonstrasi besar-besaran anti pemerintah. Awal masalahnya, Mayor Alfredo Reinaldo (mantan tentara marinir Australia) melancarkan pemberontakan untuk mengulingkan pemerintahan FRETILIN yang dipimpin oleh Mari Bim Amude Alkatiri.
Pemerintahan Alkatiripun akhirnya jatuh. Setelah Mari Alkatiri mundur dari jabatanya sebagai Perdana Menteri, Ramos Horta kemudian ditunjuk untuk menggantikan posisinya untuk sementara waktu sebelum Pemilihan Umum digulirkan.
Di saat krisis tersebut, Downer dan Howard tiba di Dili dan menawarkan perjanjian Laut Timor yang baru dan Timor-Leste tidak ada pilihan lain selain menandatangani perjanjian baru yang disodorkan, sebuah perjanjian yang bernama CMATS (Certain Maritime Arrangements in the Timor Sea). Dalah sebuah pasal didalam perjanjian tersebut menuliskan ” Kedua negara tidak boleh membicarakan masalah batas laut hingga 50 tahun kedepan, terhitung dari perjanjian ini di tandatangani.”

Seorang ahli hukum laut yang diundang oleh Pemerintah Timor-Leste setelah mempelajari CMATS tersebut, menggambarkan posisi Timor-Leste di perjanjian mengenai ladang minyak dan gas ini, seperti seseorang yang telah diikat kedua tangan dan kakinya.
Ketika Woolcott melancarkan sebuah diskusi tentang riset mengenai persengketaan ini yang dilakukan oleh Pastor Jesuit Frank Brennan, ia mengatakan Timor-Leste adalah sebuah negara fragile (mudah pecah konflik) dan Australia perlu mendorongya dari belakang untuk menggabungkan kemerdekaan Timor-Leste ini dan memelihara institusi-institusinya yang rentang.

Author Paul Cleary, dalam bukunya “Shakedown: Australia’s Grab for Timor Oil.”
Dari web: The Australian
Catatan dari saya

Ketika Timor-Timur berjuang keras untuk memerdekakan diri dari cengkeraman negara besar Indonesia dan AUstralia, hanya Portugal lah yang menghabiskan waktunya untuk membantu Timor-Leste di kancah Internasional. Amerika Serikat sengaja mendiamkan masalah TImor-TImur dan berpura-pura tidak tahu.

Resolusi-resolusi tentang Timor-Leste ada yang pernah dari Negara Aljajair. Dan resolusi-resolusi ini hanya mendapat dukungan dari negara-negara kecil saja. China karena Tibet, dan negara-negara ASEAN, karena menjaga hubungan baiknya dengan Indonesia, menolak semua resolusi tersebut.

Timor-Timur kemudian berjuang sendiri dengan dukungan dana seadanya dari Portugal dan negara-negara anggota CPLP (negara-negara berbahasa Portugis) akhirnya bisa merdeka melalui Jajak Pendapat yang berlangsung secara terbuka dan Jujur, dimana mayoritas rakyat TImor-Timur memilih keluar dari apa yang disebut sebagai aneksasi ilegal kedalam tubuh negara Indonesia.

Amerika dan Australia yang pada mulanya memberikan dukungan politik dan mesin perang kepada Indonesia untuk menginvansi Timor-Portugis akhirnya menyerah juga pada tuntutan Internasional untuk menarik dukunganya dari Indonesia. Pada tahun 1999, untuk menutupi tindak – tanduknya, Amerika kemudian mengembargo peralatan militer untuk Indonesia dan Australia mengirimkan pasukanya untuk mengamankan Dili dari amukan masa pro-integrasi bentukan Prabowo.

Dan pada akhirnya, rakyat Timor-Leste lah yang menanggung semua beban dan penderitaan dari agresi negara-negara besar yang hanya memikirkan kepentinganya.

Salam,

Maubere.





Juara Turnamen di Jepang, Timnas U-14 Timor Leste Wujudkan Mimpi Mereka di Film “A Barefoot Dream”

8 04 2014

 

Timor-Leste-U14

Timor-Leste-U14

Pernahkah anda menonton film drama berjudul “A Barefoot Dream”? Sebuah film drama yang berlatarbelakang sepakbola usia dini dari negara tetangga kita Timor Leste. Di film tersebut, diceritakan seorang mantan pemain bola asal Korea yang gagal membawa timnya juara, Kim Won Kang bepergian ke sebuah kota di Timor Leste. Disana, ia menjadi pelatih sepakbola bagi sebuah klub lokal. Dibantu seorang temannya, klub yang berisi anak-anak muda Timor Leste ini terus juara di tingkat nasional, hingga akhirnya berhasil tampil di sebuah turnamen internasional. Dalam turnamen tersebut, tim asal bekas provinsi Indonesia ini juga terus melaju dan mengalahkan semua lawan-lawannya dari berbagai negara, salah satunya adalah Indonesia. Film itu sungguh menggambarkan bagaimana perkembangan sepak bola di Timor Leste sana. Apa lagi sepak bola Timor Leste beberapa tahun lalu mendapatkan perhatian FIFA untuk program pembinaan organisasi dan pelatihan usia dini.

Dan tahukah anda, tahun ini mimpi yang dibayangkan anak-anak muda Timor Leste dalam film tersebut akhirnya terwujud nyata. Timnas U-14 Timor Leste memastikan diri menjadi juara di turnamen Jenesys 2.0 Japan Asean Football Exchange Program di Osaka Jepang. Dalam turnamen yang diikuti seluruh negara Asean plus tuan rumah Jepang, Timnas U-14 Timor Leste berhasil memuncaki klasemen setelah dalam pertandingan terakhirnya mengalahkan Laos 2-0.

Posisi runner up direbut oleh Thailand, yang juga di pertandingan terakhirnya mengalahkan Laos 1-0. Sedangkan tuan rumah Jepang yang diwakili oleh tim U-14 dari klub Cerezo Osaka harus puas di posisi ke 7. Sementara itu Indonesia yang diwakili Timnas U-14 asuhan Fachri Husaini terpuruk di posisi 10 dari 12 peserta turnamen.

Timnas U-14 memang tidak diharapkan untuk menjadi juara. Itulah alasan utama PSSI selain tentunya alasan klasik yakni persiapan yang mepet. “Target kami adalah melakukan permainan sepakbola yang baik, juara bukan menjadi target yang utama. Kami sepakat di level usia dini dengan menargetkan pemain menjadi juara sama saja dengan membunuh pemain” tegas Fachry Husaini seperti yang dilansir Goal.

Pada akhirnya, meski sama-sama tidak dibebani target, toh faktanya timnas U-14 Timor Leste berhasil menjadi juara. Dan salah satu kemenangan yang mereka raih adalah atas timnas U-14 Indonesia dengan skor 3-0. Mirip dengan cerita di film A Barefoot Dream bukan?

Hasil dari turnamen di Jepang tersebut menunjukkan fakta, bahwa PSSI masih belum serius membina sepakbola usia dini. Usai euforia timnas U-19, praktis tak ada lagi prestasi membanggakan yang ditorehkan oleh timnas kelompok umur lainnya. Baru beberapa bulan yang lalu timnas U-16 harus rela tersingkir dari kualifikasi AFC Cup U-16. Kali ini adik-adik mereka di timnas U-14 yang menjadi bulan-bulanan negara tetangga, termasuk bekas provinsi Indonesia. PSSI seakan terbuai dengan prestasi timnas U-19, hingga pada akhirnya regenerasi untuk meneruskan prestasi Evan Dimas dkk tidak dapat dimaksimalkan.

Hasil lengkap Jenesys 2.0 Japan Asean Football Exchange Program Tournament

1. Champion – Timor-Leste U-14
2. Runner-up – Thailand U-14
3rd – Laos U-14
4th – Malaysia U-14
5th – Vietnam U-14
6th – Philippines U-14
7th – Japan U-14
8th – Myanmar U-14
9th – Brunei DS U-14
10th – Indonesia U-14
11th – Cambodia U-14
12th – Singapore U-14

 

Sumber: KOMPASIANA.COM





Australia Blokir Data Intelijen tentang Aksi TNI di Timor Timur

5 04 2014
Kamis, 03 April 2014 , 14:42:00

Berisi Dokumen Sensitif, Khawatir Indonesia Marah

Milisi Pro Integrasi Timor-Timur

Milisi Pro Integrasi Timor-Timur

SYDNEY - Ketegangan hubungan antara Indonesia dengan Australia membuat pemerintahan di Negeri Kanguru itu kian hati-hati. Pemerintah Australia bahkan telah memblokir arsip rahasia tentang aksi kejahatan militer Indonesia di Timor Leste.

Seperti dilansir The Age hari ini, Administrative Appeals Tribunal (AAT) Australia menegaskan bahwa Arsip Nasional memiliki hak untuk menolak permintaan guru besar di Universitas New South Wales, Profesor Clinton Fernandes untuk mengakses dokumen diplomatik dan intelijen tentang operasi militer Indonesia di Timor Leste 32 tahun silam. AAT merupakan lembaga resmi yang berwenang meninjau keputusan pemerintah dan beberapa putusan pengadilan di Australia.

Sedangkan Profesor Fernandes merupakan mantan perwira di intelijen militer yang banting setir menjadi akademisi. Dia telah berjuang selama enam tahun melalui jalur hukum dan birokrasi untuk mendapatkan berbagai dokumen yang berhubungan dengan invasi dan pendudukan Indonesia di Timor Leste.

Sementara Arsip Nasional berdasarkan saran dari departemen luar negeri maupun petinggi di lembaga intelijen di Australia telah menolak permintaan Profesor Fernandes untuk bisa mengakses data yang berisi berbagai laporan mengenai aksi besar-besaran militer Indonesia pada penghujung 1981 dan awal 1982. Operasi militer oleh ABRI itu disebut melibatkan warga sipil Timor Timur (saat masih menjadi provinsi bagian Indonesia, red) sebagai tameng manusia yang berakhir pada pembantaian besar-besaran hingga ratusan jiwa melayang.

 

Namun menurut komisioner bidang hukum di AAT, Duncan Kerr, jika permintaan Fernandes itu sampai disetujui maka akan merusak hubungan internasional, pertahanan dan keamanan Australia. Alasannya, dokumen itu masih terlalu sensitif.

Sebelumnya, pada Januari lalu Jaksa Agung Australia mengeluarkan sertifikat kepentingan publik yang mencegah pengungkapan alasan pemerintah untuk terus menjaga kerahasiaan dokumen-dokumen tertentu. Namun, sertifikat itu membuat pengecualian untuk Profesor Fernandes.  Sementara AAT dalam keputusannya tetap merahasiakan dua bagian dari laporan intelijen yang diminta Profesor Fernandes.

Meski demikian Fernandes menyatakan bahwa dirinya akan terus melanjutkan upaya membuka dokumen-dokumen rahasia menyangkut aksi militer Indonesia di Timor Timur. Alasannya, kejatahan kemanusiaan tak bisa ditutup-tutupi.

“Kita tidak boleh menutupi kejahatan besar terhadap warga Timor Timur, biarawati dan pastor mereka lebih dari 30 tahun setelah peristiwa-peristiwa itu terjadi,” katanya. “ Saya akan terus menempuh jalur hukum, menang atau kalah. 15 tahun di Angkatan Darat melatih saya menjadi tangguh,” pungkasnya.(ara/jpnn)

 

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2014/04/03/226068/Australia-Blokir-Dokumen-Intelijen-tentang-Aksi-TNI-di-Timor-Timur-

Read the rest of this entry »





40 Tahun Peperangan Demi Minyak dan Gas Timor – Bagian-II

5 04 2014

40 Tahun Peperangan Demi Minyak dan Gas Timor
Konspirasi Untuk Mengeksplorasi Minyak dan Gas Timor Portugis (Timor-Leste)

The Australian

Bagian-II

 

Kegiatan mata – mata adalah sebuah fitur yang paling mencolok dari negosiasi – negosiasi tersebut. Di dalam buku mereka Oyster, sebuah cerita yang tepat dari Australian Secret Intelligence Service (ASIS) yang mana sekarang telah di terjemahkan dalam bahasa Cina, dalam buku itu, Brian Toohey dan Wiliam Pinwill membantah bahwa kegiatan mata – mata Australia dapat dengan mudah mendapatkan catatan – catatan negosiasi dari pihak Delegasi Indonesia sebelum sebuah pertemuan akan di adakan.
Pada kenyataanya, ketika ditanya untuk menceritakan pencapaian atau keberhasilan-keberhasilan dari organisasi intelijen ASIS ini, salah satu cerita keberhasilan yang mereka catat adalah dari pengumpulan catatan-catatan rahasia sebagai salah satu poin keberhasilanya.

Catatan-Catatan penting negosiasi yang didapatkan oleh para intelijen ASIS dari delegasi Indonesia kemungkinan dilakukan dengan cara menyuap.

Memang, para anggota senior dari tim negosiasi Timor-Leste mengakui dan percaya bahwa salah satu anggotanya berpaling ke ASIS selama negosiasi pada tahun 2004-2005 mengenai ladang minyak terbesar Greater Sunrise.
Salah seorang penasehat yang sangat berpengaruh dari pihak Timor-Leste yang mana sangat bersih kukuh untuk memenangkan Timor-Leste pada tahun 2004 tetapi kemudian mendesak kembali Pemerintah Timor-Leste untuk menyerah pada delegasi Australia dan menyetujui tawaran Austrlia akan pembagian dana minyak yang lebih sedikit dari perjanjian eksplorasi minyak yang besar.

Kisah kisruh dari cerita panjang ini berawal ketika Timor-Leste baru memasuki lima bulan setelah melakukan jajak pendapat yang dimana mayoritas rakyat Timor-Leste memilih untuk memerdekakan diri pada bulan Agustus 1999.
Pada bulan Januari 2000, sebuah delegasi tingkat tinggi Australia pergi ke Dili untuk sebuah misi sepenuhnya yang dianggap seperti Kepentingan Nasional Australia.

Delegasi-Tingkat-Tinggi-Australia-Memakai--TAIS-Timor

Delegasi-Tingkat-Tinggi-Australia-Memakai–TAIS-Timor

Dili dibanjiri oleh personel dan peralatan militer pada waktu itu, setelah milisi pro integrasi pada 30 Agustus 1999 menghancurkan Dili. pada tahun 2000, Dili bagaikan sebuah kota hantu.
Pada saat itu, para penduduk sipil lokal masih tinggal di barak-barak pengunsian di atas bukit-bukit sekitar kota Dili.
Di tengah – tengah kehancuran kota Dili ini, delegasi tingkat tinggi Australia mendarat di Dili dengan tujuan untuk meyakinkan para pemimpin Timor-Leste bahwa mereka harus menerima secara penuh perjanjian minyak dan gas yang mana pemerintah Australia telah bersusah payah selama 10 tahun telah me-negosiasikanya dengan Indonesia.

Di Dili, Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer percaya bahwa orang – orang Timor akan menghormati Perjanjian Timor Gap yang akan ditawarkanya, yang mana perjanjian tersebut terbukti sebagai sebuah asumsi yang tidak realistik, perjanjian yang disiapkan sedemikian cantik dan akan dipresentasikan kepada para pemimpin Timor-Leste ini adalah hasil dari perumusan licik Australia untuk sebuah pendudukan baru di Timor yang tidak sah.
Dipimpin oleh seorang diplomat veteran bernama Michael Potts, delegasi resmi yang terdiri dari Departemen Luar Negeri dan Dagang, Departemen dari Kejaksaan TInggi dan Industri, memesan sebuah ruang konferensi di atas sebuah Kapal Hotel Terapung bernama Olympia. Hanya tempat inilah satu-satunya tempat di Dili pada tahun 2000 yang bisa mengakomodir pertemuan semacam ini. Strategi khusus telah dipersiapan oleh tim Australia ini demi mengecoh para pemimpin Timor-Leste.

Berbekal sebuah laptop dan sebuah PowePoint Projector, Potts dan timya di Hotel Terapung Olympia, menjelaskan secara detail Perjanjian Timor Gap dengan raut muka yang tak berubah dan tidak dalam suasana humor di hadapan para pemimpin Timor-Leste. Dalam suasana panas dan lembab di musim hujan, wajah merah dan berkacamata ini Potts kelihatan sangat panas sekali dan terlihat susah.

Ia mendesak pemimpin – pemimpin Timor-Leste untuk menggantikan nama Indonesia saja dalam perjanjian itu dan menuliskanya kembali dengan nama Timor-Leste dari perjanjian yang telah disepakati dengan Indonesia tersebut. Hanya itu dan tanpa merubah isi dari perjanjian tersebut. Tampak dari salah peserta tersebut adalah, Mari Bim Amude Alkatiri, orang Timor keturunan Yaman dan salah seorang pendiri Partai FRETILIN di tahun 1975, yang baru saja kembali dari negara Mozambique yang mana pada waktu itu turut serta dalam kabinet UN Transitional Administration di Timor-Leste, dan Jose Ramos Horta yang pada saat itu masih menjabat sebagai Wakil Presiden dari organisasi payung kemerdekaan CNRT yang mana setelah itu menjabat sebagai seorang Menteri Luar Negeri Timor-Leste dan juga sebagai Perdana Menteri Timor-Leste.

Mari-Bim-Amude-Alkatiri-Perdana Menteri Timor-Leste Pertama-Saat-Mengkritik-Australia

Mari-Bim-Amude-Alkatiri-Perdana Menteri Timor-Leste Pertama-Saat-Mengkritik-Australia

Pada suatu kesempatan dalam presentasi itu, seorang yang dikenal agak kasar dan merupakan seorang pakar hukum internasional yang bekerja di misi PBB bernama Miguel Galvao-Teles, mengangkat tangan dan berdiri serta berkata kepada para hadirin dan delegasi tingkat tinggi Australia tersebut bahwa mungkin saja delegasi ini lupa untuk mengatakan kepada orang-orang Timor-Leste yang hadir bahwa sangat tidaklah baik Perjanjian Timor Gap tahun 1989 itu ketika dibandingkan dengan hak Timor-Leste dibawah hukum internasional. Timor-Leste pada dasarnya sangatlah dini atau singkat waktunya untuk dapat menandatangani perjanjian ini, ia mengatakan ini kepada para hadirin yang hadir.

Setelah-DiKritik-Oleh-Mari-Alkatiri-Terlihat Salah-Satu Delegasi Australia-Melepaskan-TAIS-Timor-Yang-digantungkan kepadanya.

Setelah-DiKritik-Oleh-Mari-Alkatiri-Terlihat Salah-Satu Delegasi Australia-Melepaskan-TAIS-Timor-Yang-digantungkan kepadanya.

Berpaling dari hak-haknya, implikasi ekonomi dari proposal yang diajukan oleh Australia pada saat itu sangat menganggu orang-orang Timor. Usulan – usulan atau proposal dari Pemerintah AUstralia ini bisa saja menjebak Timor-Leste dan menjadikan negara Timor-Leste sebagai sebuah negara pengemis yang akan sangat tergantung pada bantuan asing, sebuah sketsa skenario oleh Menteri Luar Negeri Australia pada waktu itu, Alexander Downer kepada para wartawan dalam sebuha diskusi di Bali setelah bertemu dengan president Indonesia BJ Habibie.

Harga minyak per barel pada waktu itu mendekati $US 20, satu saja sumber pendapatan Timor-Leste untuk 20 tahun mendatang dan $US 50 juta per tahun atau sekitar $50 per kepala dari total penduduk waktu itu. Dari proposal yang diajukan oleh Australia ini, hanya bisa mengakomodir Timor-Leste 20 persen dari ladang minyak dan gas yang terletak di Laut Timor, yang mana menurut hukum laut internasional sebenarnya ladang minyak dan gas tersebut milik Timor-Leste seutuhnya.

Karena mendapat banyak masukan dari pakar hukum laut internasional pada waktu itu, para Pemimpin Timor-Leste kemudian menolak proposal Australia tersebut.

Kedatangan Galbraith setelah pertemuan di Hotel Terapung ini, untuk membawa kebenaran Amerika untuk mendukung Timor-Leste dalam mengejar keadilan di Laut Timor.
Ia kemudian memarahi lawan – lawanya dari Australia pada suatu kesempatan karena Pemerintah Howard mencoba untuk membungkusnya dan mencoba melengsernya dari peranya dalam misi PBB di Timor-Leste, dan juga dari posisinya sebagai seorang dosen di National War College di Washington. Duta Besar Australia pada waktu itu Michael Thawley mantan penasehat PM Australia Howard mengatakan kepada seorang penasehat yang dikontrak Timor-Leste bernama Jonathan Morrow bahwa ia telah menghabiskan waktunya di Washington hanya untuk melecehkan Galbraith.

Australia kemudian terhimpit di 50 persen (sebenarnya hanya 20%) dari penawaranya untuk Timor-Leste sekurang-kurangya 18 bulan kedepan, akan tetapi tensi tinggi mencapai puncaknya yaitu pada bulan Juni 2011, dalam sebuah pertemuan di Parliament House di Canberra, Menlu Australia Alexander Downer mendesak Ramos Horta untuk berdiri dan keluar meninggalkan ruangan pertemuan.

Akhirnya, di sebuah koridor di Parliament House itu, Downer mengatakan bahwa ia setuju atas permintaan Timor-Leste agar mendapatkan pembagian dari eksplorasi minyak dan gas di salah satu ladang minyak di Laut Timor itu sebesar 90 persen, akan tetapi persetujuan ini hanya berlaku di area yang telah disetujui oleh Australia dan Indonesia pada tahun 1989 yang telah menandatangani Perjanjian Timor-Gap. Perjanjian itu ditandatangani oleh Menlu Indonesia pada waktu itu Ali Alatas di atas pesawat terbang bersama Menlu Australia saat menuju kembali ke Jakarta dari Australia tahun 1989.
Proposal Australia yang sebelumnya ingin membagi hasil eksplorasi sebesar 50-50 (sebenarnya hanya 20% untuk Timor-Leste) akhirnya berubah menjadi 90% untuk Timor-Leste dan 10% untuk Australia. Pembagian ini hanya untuk ladang minyak yang bernama BAYU UNDAN. Ladang minyak ini diberi nama oleh Indonesia pada waktu itu, dan sampai sekarang masih aktif di eksplorasi.

Bersambung…
Author Paul Cleary, dalam bukunya “Shakedown: Australia’s Grab for Timor Oil.”
Dari web: The Australian





PT PP Bangun Gedung Tertinggi di Timor Leste

30 03 2014

TIMOR LESTE, KOMPAS.com -  PT Pembangunan Perumahan (PT PP) (Persero) Tbk  mulai mengerjakan proyek pembangunan Gedung AGP Square di Dili, Timor Leste. Nantinya, AGP Square akan menjadi gedung tertinggi di negeri mantan provinsi ke 27 Indonesia tersebut.

PM Xanana berbincang dengan Tomy Winata saat akan melakukan pemancangan tiang untuk pemangunan Gedung AGP Square yang dibangun di Kota Dili berlantai 26. Foto TTN/Gantry Meilana

PM Xanana berbincang dengan Tomy Winata saat akan melakukan pemancangan tiang untuk pemangunan Gedung AGP Square yang dibangun di Kota Dili berlantai 26. Foto TTN/Gantry Meilana

 

Ground breaking proyek ini yang dilaksanakan di lokasi proyek Sabtu (16/11/2013), dengan dihadiri oleh para pejabat Pemerintah Timor Leste seperti Perdana Menteri Xanana Gusmao,  Wakil Perdana Menteri Timor Leste Fernando La Sama de Araujo, Tommy Winata selaku Pemberi Kerja dan Direktur Utama PTPP Bambang Triwibowo selaku penerima kerja, serta beberapa pengusaha di Timor Leste.

Proyek senilai Rp 1 triliun ini akan memakan masa pengerjaan selama 2 tahun dengan berdiri di atas lahan 15.000 m2, luas bangunan 56.000 m2 dan ketinggian 26 lantai. Gedung ini memiliki konsep sebagai ikon di kawasan elite di kota Dili yang menyediakan fasilitas Mall, Perkantoran, Apartemen dan Hotel di Negara Timor Leste.

’’Gedung AGP Square akan menjadi gedung tertinggi di Timor Leste dan konsepnya sebagai ikon untuk kawasan elite di Kota Dili dengan fasilitas yang lengkap. Selain itu, keberadaan gedung AGP Square ini akan memperkuat PT PP (persero) untuk semakin eksis dalam bisnis ini,’’ sebut Direktur utama PT PP (persero), Tbk Bambang Triwibowo dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

Dengan adanya gedung ini, sebut dia, nantinya diharapkan para pekerja asing dan warga Timor Leste yang selama ini pergi keluar negeri untuk weekend, tidak perlu lagi keluar negeri.

PM Xanana ketika memberikan sambutan dalam acara pemancangan tiang pertama Gedung AGP Square milik Tomy Winata dan Franky Tjahyadikarta yang akan dibangun di pusat kota Dili. Foto: TTN/Gantry Meilana

PM Xanana ketika memberikan sambutan dalam acara pemancangan tiang pertama Gedung AGP Square milik Tomy Winata dan Franky Tjahyadikarta yang akan dibangun di pusat kota Dili. Foto: TTN/Gantry Meilana 

Sebelumnya PT PP juga menyelesaikan proyek Gedung Kementerian Keuangan dan Jalan Likuisa serta melaksanakan proyek Jalan Tibar di Timor Leste.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/11/17/1805271/PT.PP.Bangun.Gedung.Tertinggi.di.Timor.Leste





Australia issues diplomatic warning to East Timor saying maritime boundaries case risks relationship

30 03 2014
Australia Mengeluarkan “Diplomatic Warning” Untuk Timor-Leste Karena Masalah Batas Laut Bisa Beresiko Terhadap Hubungan Kedua Negara
ABC - March 17, 2014
The Australian Government has warned East Timor there will be tough consequences over its decision to launch international arbitration proceedings over its maritime boundary with Australia.
The warning, aiming to “send a message” to the Timorese leadership, was delivered through an intermediary in direct language by a highly placed Australian diplomat one week ago.
The senior diplomat repeatedly warned the Timorese leadership they were being “naive to think the arbitration and maritime boundary issue would not affect the bilateral relationship”.
The message came a fortnight after Australia applied to the Permanent Court of Arbitration in The Hague to have the evidence of a former Australian intelligence officer, Witness K, struck out of the arbitration proceedings between East Timor and Australia on the maritime boundary.
The evidence relates to an Australian spying operation during 2004 treaty negotiations over the maritime boundary, when agents from Australia’s Secret Intelligence Service (ASIS) bugged the conference room of the then East Timorese prime minister.
Tonight, the ABC’s Four Corners program examines the events that have seen rising tensions between the two neighbours.

Read the rest of this entry »





Film Korea Tentang Anak-Anak Timor-Leste “A Barefoot Dream” Disyuting di Timor-Leste Pada Tahun 2004 (KISAH NYATA)

30 03 2014

A Barefoot Dream [Korea|2010]

BERDASARKAN KISAH NYATA!!! SYUTING DI TIMOR-LESTE PADA TAHUN 2004, DAN DIRILIS KE PUBLIK PADA TAHUN 2010, DAN DISELEKSI OLEH LEMBAGA FILM KOREA – SELATAN UNTUK MASUK OSCAR NOMINEE UNTUK FILM SEMI-DOKUMENTER.

Tidak jarang kekuatan sebuah mimpi, harapan, dan kepercayaan diangkat menjadi tema pokok dalam suatu film. Di tahun 2010 ini, A Barefoot Dream yang merupakan sebuah film drama korea adalah salah satunya. Bersama Tae-gyun Kim yang sebelumnya dikenal melalui WaSanGo (Volcano High) di tahun 2001 dan Crossing pada 2008 duduk di bangku sutradara, film ini sukses menjadi official selection Korea di ajang Academy Awards 2010 untuk “bertarung” dengan banyak film dari Negara lainnya, termasuk Alangkah Lucunya (Negeri Ini) dari Indonesia dalam kategori Best Foreign Language.

TONTON FULL MOVIENYA DI YOUTUBE DENGAN MENG-CLICK URL DIBAWAH INI:

Bercerita mengenai Kim Wong-Kang, mantan pemain tim nasional sepak bola Korea Selatan yang mengalami kegagalan dalam berbisnis di Kalimantan pada akhir tahun 90-an. Kegagalannya itu membuat dirinya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Timor Leste yang ketika baru saja merdeka lepas dari Indonesia dengan besar harapan dan anggapan bisa mudah memulai bisnis baru di Negara pertama yang merdeka di abad ke-21 tersebut. Namun ternyata anggapannya salah, Kim kembali mengalami kegagalan di bisnisnya kali ini. Berbekal pengalamannya sebagai pemain sepak bola, Kim banting setir menjadi pelatih tim sepak bola remaja setempat setelah kegagalannya yang kedua. Namun sayang, keinginan mulianya itu harus diwarnai dengan perjuangan yang tidak mudah, penuh cobaan dan ujian dari lingkungan sekitarnya termasuk keadaan Timor Leste yang masih belum stabil oleh banyaknya baku tembak dan kerusuhan yang masih terjadi. Bagian awal film ini terkesan masih kurang tegas dan seakan-akan masih meraba dalam membawa dan menyuguhkan cerita film. Hal ini terlihat pada pengemasan drama yang bisa dikatakan kurang berhasil dalam membawa emosi penonton. Pun pada pada penggunaan bahasa yang beragam dan terkesan tak beraturan, yah dalam film ini digunakan bahasa Korea, Inggris dengan aksen Korea, Jepang, Timor Leste, dan tidak ketinggalan pula bahasa Indonesia.

Read the rest of this entry »








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 50 other followers