Beberapa Foto Sejarah Dari Perjuangan Kemerdekaan Timor-Leste

I. Zaman KOLONIAL PORTUGAL

Sebuah-Asrama-Pada-Zaman-Portugal

Sebuah-Asrama-Pada-Zaman-Portugal

Sebuah-Acara-Pernikahan-Pada-Zaman-Portugis

Sebuah-Acara-Pernikahan-Pada-Zaman-Portugis

SANG-TAI-HOO-Sebuah-Toko-Di-Dili-Pada-Zaman-Kolonial-Portugal-Tahun-1970an

SANG-TAI-HOO-Sebuah-Toko-Di-Dili-Pada-Zaman-Kolonial-Portugal-Tahun-1970an

SANG-TAI-HOO-Sebuah-Toko-Di-Dili-Pada-Zaman-Kolonial-Portugal-Sekitar-Tahun-1950an

SANG-TAI-HOO-Sebuah-Toko-Di-Dili-Pada-Zaman-Kolonial-Portugal-Sekitar-Tahun-1950an

Pasukan-Berkuda-Orang-Orang-Timor-Portugis-Yang-Menjadi-Tentara-Portugal-

Pasukan-Berkuda-Orang-Orang-Timor-Portugis-Yang-Menjadi-Tentara-Portugal-

Orang-Orang-Timor-Portugis-Yang-Menjadi-Tentara-Portugal-

Orang-Orang-Timor-Portugis-Yang-Menjadi-Tentara-Portugal-

Mata-Uang-Timor-Portugis-Saat-Dibawah-Kolonial-Portugal

Mata-Uang-Timor-Portugis-Saat-Dibawah-Kolonial-Portugal

Masyarakat-BALIBO-Saat-Masih-Dibawah-KOLONIAL-Portugal

Masyarakat-BALIBO-Saat-Masih-Dibawah-KOLONIAL-Portugal

Kota-MAUBISSE-Saat-Dibawah-Penjajahan-Portugal

Kota-MAUBISSE-Saat-Dibawah-Penjajahan-Portugal

II. Tentara FRETILIN

Xanana-Gusmao-Di-Kamp-Gerilya-BIBLEU

Xanana-Gusmao-Di-Kamp-Gerilya-BIBLEU

Komandan-David-Alex-Kiri-dan-Kapten-L7-Kanan-FALINTIL

Komandan-David-Alex-Kiri-dan-Kapten-L7-Kanan-FALINTIL

Komandan-Wilayah-Haksolok-Dalam-Sketsa

Komandan-Wilayah-Haksolok-Dalam-Sketsa

Seorang-Komandan-FALINTIL-Bernama-NINO-KONIS-SANTANA-Wilayah-IV

Seorang-Komandan-FALINTIL-Bernama-NINO-KONIS-SANTANA-Wilayah-IV

 

III. Masa Gencatan Senjata Tahun 1983/1984

Continue reading

Film A Guerra da Beatriz Bisa Ditonton

Belajar dari sejarah yang benar.

A Guerra da Beatriz

Pembantaian di KRARAS, Distrik Viqueque atas Perintah PRABOWO SUBIANTO, Letnan Anwar dan Kapten Sumitro.

Adalah ide PRABOWO untuk merencanakan PEMERKOSAAN dan PEMBUNUHAN WARGA SIPIL tanpa senjata. Tapi tidak kehutan untuk melawan Tentara FRETILIN yang terkenal ganas.

 

Eks tentara Timor-Timur yang tertangkap dan menyerah, kemudian direkrut kembali oleh TNI untuk menjadi tentara bayaran TNI untuk kemudian dikirim ke hutan untuk berperang melawan tentara FRETILIN, tujuanya adalah untuk menurunkan angka tewasnya anggota TNI. Biasanya, TNI suka berada dibelakang eks tentara tersebut, dan eks tentara ini yang terjun di barisan depan.

 

Berikut beberapa, scene yang ada dalam film A Guerra da Beatriz .

Seorang-Aktor-Yang-Berperan-Sebagai-Prabowo-di-KRARAS

Seorang-Aktor-Yang-Berperan-Sebagai-Prabowo-di-KRARAS

Tomas-Ditangkap dan Dianiaya oleh TNI

Tomas-Ditangkap dan Dianiaya oleh TNI

Tempat-Interogasi-Bagi-Penduduk-Pro-Kemerdekaan

Tempat-Interogasi-Bagi-Penduduk-Pro-Kemerdekaan

Scene-Pemerkosaan-Dilakukan-Oleh-Kapten-Sumitro-Anggota-TNI-Terhadap-Beatriz

Scene-Pemerkosaan-Dilakukan-Oleh-Kapten-Sumitro-Anggota-TNI-Terhadap-Beatriz

Semua-Laki-Laki-di-KRARAS-Di-Tembak-Mati-Oleh-Komandan-Lapangan-Bernama-SUMITRO

Semua-Laki-Laki-di-KRARAS-Di-Tembak-Mati-Oleh-Komandan-Lapangan-Bernama-SUMITRO

Mayat-Tergeletak-Karena-TNI-Tidak-Menyerang-Tentara-FRETILIN-Melainkan-Hanya-Membantai-Penduduk-SIPIL

Mayat-Tergeletak-Karena-TNI-Tidak-Menyerang-Tentara-FRETILIN-Melainkan-Hanya-Membantai-Penduduk-SIPIL

Salah_Satu-Scene-Di-Film-Ini-Tentang-Cerita-Pembantaian-Biarawati-di-Daerah-Lospalos

Salah_Satu-Scene-Di-Film-Ini-Tentang-Cerita-Pembantaian-Biarawati-di-Daerah-Lospalos

 

Inilah adalah film semi dokumenter yang bertujuan untuk memberitakan kebenaran, ini adalah bagian dari ‘BELAJAR DARI SEJARAH”.

 

Silahkan menonton FULL VERSIONnya di YOUTUBE:

 

SELAMAT MENIKMATI.

Inilah Sebab Indonesia, Menduduki Timor-Timur

Diterjemahkan Oleh: Maubere

Judul Asli:

OIL, GAS AND SPY GAMES IN THE

TIMOR SEA

Australian scheming for the Greater Sunrise oilfield has a long history by K i m McGrath

March, 2014

Versi asli oleh authornya dipublikasikan di website: http://www.themonthly.com.au/issue/2014/april/1396270800/kim-mcgrath/oil-gas-and-spy-games-timor-sea

 

Oil-Gas-and Spy Games in the Timor Sea by Kim McGrath-Maret 2014

Oil-Gas-and Spy Games in the Timor Sea by Kim McGrath-Maret 2014

Pada bulan Desember tahun 2013 lalu, Perdana Menteri Timor -Leste, Xanana Gusmão, sedang melakukan kunjungan resmi ke negara terbaru di dunia Benua Afrika yaitu Sudan Selatan, ketika ia menerima panggilan mendesak dari Dili. Petugas dari Organisasi Intelijen Keamanan Australia dan Kepolisian Federal Australia baru saja mengambil file dan komputer dari kantor Bernard Collaery yang berlokasi di Canberra, Australia, ia adalah salah satu pengacara sekaligus penasehat negara Timor – Leste dalam persengketaan  dengan Australia melalui perjanjian yang membagi rampasan dari $ 40.000.000.000 USD dari ladang minyak dan gas yang bernama Greater Sunrise.

Gusmão diberitahu bahwa ada serangan secara tiba-tiba di Canberra ke rumah saksi kunci rahasia Timor – Leste dalam sengketa dengan Australia tersebut. Mantan Agen Rahasia dari Secret Service Intelligence ( ASIS ) Australia ini, sempat mengabarkan sebuah pernyataan tertulis yang menyatakan bahwa mata-mata Australia telah menyadap ruang rapat kabinet pemerintahan Timor – Leste dalam rangka untuk mengamankan keuntungan komersial yang lebh banyak bagi Australia selama negosiasi perjanjian pada tahun 2004 berlangsung. Paspornya juga telah disita dalam serangan tiba-tiba ini, sekaligus mencegah dia untuk bepergian ke Den Haag-Belanda di mana Pengadilan Tetap Arbitrase berada karena Australia mendengar bahwa, Timor – Leste telah menyerahkan permohonan siding untuk membatalkan perjanjian yang telah ditanda-tanggani dengan Australia karena Australia telah melanggar salah satu pasal dalam perjanjian tersebut dimana dalam perjanjian tersebut tertulis, “Kedua Negara harus menekan perjanjian ini dengan cara-cara yang bersifat GOOD FAITH”.

Suasana-Sidang-Di-Pengadilan-Tinggi-PBB-Pada Tanggal 22 January 2014-Di Den Hague-Belanda

Suasana-Sidang-Di-Pengadilan-Tinggi-PBB-Pada Tanggal 22 January 2014-Di Den Hague-Belanda

Gusmão menggambarkan serangan fajar tersebut sebagai “perilaku idiot dan tidak bisa diterima “. Pengacara untuk negaranya menuntut agar dikembalikanya secaracepat dokumen-dolumen yang telah disita oleh ASIO tersebut; ketika Australia menolak untuk mengembalikanya, Timor -Leste meminta digelarnya sidang untuk mendesak Australia di Mahkamah Internasional di Den Haag.
Continue reading

TIMOR’S OIL – By Tom Clarke

TIMOR’S OIL

This article is part of Right Now’s March issue, focusing on East Timor.

By Tom Clarke

Published March 10, 2014

Since the discovery of vast oil deposits under the Timor Sea in the early 1970s, oil has been the ever-present third player in Australia’s relationship with East Timor.

Prior to the Indonesian invasion of East Timor, Australia’s ambassador to Indonesia Richard Woolcott infamously sent a cable back to his political masters in Canberra suggesting Australia’s chances of securing a more lucrative deal over the Timor Sea resources would be better if Indonesia controlled East Timor. It read:

“This could be much more readily negotiated with Indonesia by closing the present gap than with Portugal or an independent Portuguese Timor.”

This set the tone for the next 25 years of Australia’s response to Indonesia’s illegal occupation of East Timor which saw the death of over 200,000 Timorese men, women and children. Australia was all too eager to cosy up to the Suharto dictatorship for political and economic gain.

The 1989 Timor Gap Treaty confirmed this for the world to see.

The treaty was signed by Australia’s foreign minister at the time, Gareth Evans, and Indonesia’s foreign minister, Ali Alatas, as they clinked champagne glasses in an aeroplane flying high above the Timor Sea. Two men divvying up resources that did not belong to either of the nations they represented. It was Timor’s Oil.

 

Platform-Bayu-Undan-2012

Platform-Bayu-Undan-2012

Today, an independent East Timor enjoys 90% of the government revenue from one of the key fields in the Timor Sea, Bayu-Undan. However, the dispute over other significant deposits located nearby is still raging and some deposits, namely the Laminaria-Corallina fields, have nearly been depleted without Timor receiving a cent.

The dispute is likely to continue in one form or another until permanent maritime boundaries are established between East Timor and Australia.

East Timor has never had permanent maritime boundaries. It wants permanent boundaries and, as a sovereign nation, it is entitled to have them. Australia however, has consistently refused to establish boundaries with East Timor. Instead it has jostle our tiny neighbour into a series of temporary resource sharing arrangements – all of which short-change East Timor out of billions of dollars in government revenues to which it is entitled.

To understand the complexities of the current dispute, it helps to step through the various milestones that led to the current state of play.

In 1972 Australia and Indonesia agreed on a seabed boundary. This was based on the now out-dated “continental shelf” argument and the boundary was a lot closer to Indonesia than Australia. Because Portugal, the then colonial ruler of Timor, did not participate in the negotiations, a gap was left in the boundary. This became know as “The Timor Gap”.

Continue reading

MINYAK TIMOR – Oleh Tom Clarke

MINYAK TIMOR
Artikel ini adalah bagian dari edisi Maret Right Now , dengan fokus pada Timor Timur .

(Diterjemahkan dengan bantuan Google Translate)

Oleh Tom Clarke

Sejak penemuan cadangan minyak besar di bawah Laut Timor pada awal tahun 1970an , minyak telah menjadi pemain ketiga yang selalu ada dalam hubungan Australia dengan Timor Timur.
Sebelum invasi Indonesia ke Timor Timur, Duta Besar Australia untuk Indonesia Richard Woolcott secara memalukan mengirimkan pesan kabel kembali ke master politiknya di Canberra, menunjukkan kemungkinan mengamankan kesepakatan lebih menguntungkan atas sumber daya Laut Timor, Australia akan lebih baik jika Indonesia menguasai Timor Timur . Bunyinya:
Ini bisa lebih mudah dinegosiasikan dengan Indonesia dengan menutup kesenjangan ini dibandingkan dengan Portugal atau Timor Portugis merdeka.
Ini mengatur nada untuk 25 tahun ke depan, respon Australia terhadap pendudukan ilegal Indonesia atas Timor Timur yang melihat kematian lebih dari 200.000 orang Timor, pria, wanita dan anak-anak. Diatas segalanya, Australia terlalu bersemangat untuk nyaman dengan kediktatoran Suharto untuk kepentingan politik dan ekonominya.
The Timor Gap Treaty 1989 menegaskan hal ini bagi dunia untuk melihat masalah ini.
Perjanjian itu ditandatangani oleh menteri luar negeri Australia pada saat itu , Gareth Evans , dan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas , karena mereka bersulang gelas sampanye di pesawat terbang yang terbang tinggi di atas Laut Timor. Dua pria ini membagi- sumber daya yang tidak termasuk dalam salah satu negara yang mereka wakili,itu adalah Minyaknya Timor.

Platform-Bayu-Undan-2012

Platform-Bayu-Undan-2012

Hari ini , Timor Timur yang merdeka menikmati 90 % dari pendapatan pemerintah dari salah satu bidang utama di Laut Timor, yaitu lading minyak dan gas Bayu -Undan. Namun, sengketa deposito penting lain yang terletak di dekatnya masih mengamuk dan beberapa deposito, yaitu bidang Laminaria – Corallina, telah hampir habis disedot tanpa Timor menerima satu sen pun.
Sengketa ini kemungkinan akan berlanjut dalam satu bentuk atau lain sampai batas maritim permanen dibangun antara Timor-Timur dan Australia.

Continue reading

Memata-Matai Timor-Leste Oleh Damien Kingsbury -Bagian II

Memata-Matai Timor-Leste

Oleh Damien Kingsbury

Bagian-II

Menteri Luar Negeri Australia, Gareth Evans dan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas secara diam-diam menandatangani Timor Gap Treaty di atas pesawat terbang-1989-02

Menteri Luar Negeri Australia, Gareth Evans dan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas secara diam-diam menandatangani Timor Gap Treaty di atas pesawat terbang-1989-02

Perjanjian CMATS secara efektik hanya mencatatkan kembali persetujuan yang telah ada, di tahun 1971 dan 1972 bersama Indonesia. Persetujuan-persetujuan ini menentukan sebuah batasan teritorial sepanjang Kontinental Shelf Australia, dimana meletakan perbatasan lebih dekat ke Indonesia daripada Australia. Perjanjian ini berdasarkan pada
Konvensi Hukum Laut tahun 1958.

Akan tetapi, Indonesia juga kemudian keberatan dengan perjanjian penentuan perbatasan laut seperti yang diusulkan oleh Australia yang berdasarkan pada Kontinental Shelf. Menteri Luar Negeri Mocthar Kusumaatmadja mengatakan bahwa perjanjian ini adalah perjanjian yang mana Indonesia “telah bawa ke pembersih.” Akan tetapi, perbatasan yang telah disepakati tidak boleh berubah.

 

Peta-Lengkap-Dari-Perjanjian-Perjanjian-di-laut-Timor

Peta-Lengkap-Dari-Perjanjian-Perjanjian-di-laut-Timor

Portugal, penguasa kolonial di Timor-Leste pada waktu itu, tidak mengambil bagian dalam diskusi-diskusi penentuan perbatasan. Dari segi itu saja, telah meninggalkan sebuah “celah” di perbatasan, bila dikaitkan dengan penguasa teritorial Portugal.

Continue reading

Memata-Matai Timor-Leste Oleh Damien Kingsbury -Bagian I

Memata-Matai Timor-Leste

Oleh Damien Kingsbury

Bagian-I

Dibutuhkan beberapa bulan untuk memainkannya, tetapi Australia akhirnya didepan Pengadilan Internasional untuk memutuskan
apakah boleh atau tidak, telah bertindak secara resmi dalam menciptakan pembagian di Laut Timor dengan Timor-Leste. Untuk saat ini, taruhanya adalah Perbatasan Teritorial antara Australia dan Timor-Leste dan maka dari itu, mengontrol juga miliran dollar dari sumber-sumber minyak dan gas.

Melihat kembali ke tahun 2000, ketika Timor-Leste sedang dalam tahap membangun kembali dari reruntuhan infrasktrukturnya dan sedang mempersiapkan diri untuk mendeklarasikan pemulihan hari kemerdekaanya, Australia mendesak untuk tetap pada pendirianya dalam Perjanjian Timor Gap (Timor Gap Treaty), yang mana secara buruk telah disetujui dengan Indonesia pada tahunn 1989.

Peta-Lengkap-Dari-Perjanjian-Perjanjian-di-laut-Timor

Peta-Lengkap-Dari-Perjanjian-Perjanjian-di-laut-Timor

Perjanjian ini adalah bagian dari persetujuan diam-diam Australia untuk mendukung Pendudukan Brutal Indonesia pada tahun 1975 dan selanjutnya menduduki Timor-Leste, yang mana akibatnya lebih dari sepertiga penduduk Timor-Leste tewas, hal ini secara khusus sangat menyakiti Timor-Leste.

Bahkan Timor-Leste pada waktu itu belum membentuk pemerintahan, Australia telah mendesak dirinya untuk mengejar kepentingan-kepentingan nasionalnya. Kepentingan-kepentingan tersebut adalah Teritorial dan Komersial. Akan tetapi ada juga kepentingan pribadi.

Tokoh yang memimpin kasus Australia pada waktu itu adalah Menteri Luar Negeri AUstralia, Alexander Downer.

Continue reading