Timor Leste Sekarang
Setelah mengalami keterpurukan ekonomi pada tahun 1999, ketika militer Indonesia dan milisi – milisi bersenjata pro-integrasinya melakukan
pembunuhan dan pembakaran massal di Timor Leste, meninngalkan Timor Leste kembali ke EKONOMI ZERO dan serta membuat Timor Leste menjadi kota mati dan hangus terbakar seperti abu. Rumah rakyat, binatang peliharaan rakyat, bangunan yang mereka klaim telah mereka bangun, sekolah – sekolah dan fasilitas umum dibakar oleh TNI dan milisi – milisi bersenjata bentukan TNI. Mereka memaksa rakyat untuk mengungsi ke Timor Barat agar seolah – olah mengatakan kepada dunia Internasional
bahwa telah terjadi perang saudara lagi, padahal TNI dan Milisi2 pro integrasinya yang menjarah harta rakyat kecil dan membawanya ke Timor Barat, bukan saja itu para milisi – milisi tersebut dan tuan – tuanya juga
ikut serta mencuri dan membawa kendaraan – kendaraan PBB ke Timor Barat.

Bearing Check. East Timor Military member Lieutenant Xisto Da Cruz checks his estimated bearing calculation via a compass under the supervision of NORFORCE instructor WO2 Lee Symonds during an introduction to navigation and survival training at the Kangaroo Flats Training Area in the Northern Territory.
Timor Leste ditinggalkan dalam keadaan gelap gulita, rumah semua rakyat dibakar dan dihanguskan hingga rata dengan tanah. Fasilitas umum dan perkantoran ynag Indonesia bangun selama 24 tahun dihancurkan semua termasuk yang bukan mereka bangun.

East Timorese President Jose Ramos-Horta, center left, speaks with his counterpart from Brazil Luiz Inacio Lula da Silva, center right, upon his arrival in Dili, the capital of East Timor Friday, July 11, 2008.(AP Photo/JH)
Meninggalkan Timor Leste seperti kota hantu. Tapi sampai hari ini banyak kalangan di Indonesia yang mengatakan mereka telah membangun Timor Leste tapi KENYATAAN-nya tidak demikian, mereka kebanyakan seperti kompor meledak dan berlomba – lomba mengatakan telah membangun Timor – Timur padahal mereka hancurkan semu ayang telah mereka bangun selama 24 tahun, dan meninggalkan Timor – Timur pada tahun 1999 dalam keadaan RUSAK SANGAT PARAH.
Banyak rakyat Indonesia yang tidak tahu akan hal ini, karena mereka juga dibohongi, ditutup – tutupi dan iku – ikutan tidak syka kepada Timor Leste, tapi mereka hanya tidak tahu dan kurang informasi, jikalau mereka tahu yang sebenarnya saya YAKIN mereka
pasti mendukung Timor Leste, tapi biarkan saja waktu yang akan bercerita dan biarkan saja kebenaran – kebenaran pasti suatu sast akan muncul ke permukaan dan semua orang akan tahu.
Memasuki tahun 2000, rakyat Timor Leste mulai bangkit dan menata kembali hidup mereka, PERLAHAN – LAHAN TAPI PASTI mulai membenahi diri. Pembangkit listrik dipasang lagi oleh PBB dan fasilitas umum disediakanlagi, dimana sampai detik ini Pendidikan dan Kesehatan digratiskan untuk semua rakyat Timor Leste. Ekonomi Timor Leste yang pada tahun 1999 ZERO kini mulai tumbuh lagi.
God Bless Timor Leste.

















Awalnya saya sangat menyesalkan Referendum era Habibie yg akhirnya banyak memakan korban, pro kontra itu biasa, yg pasti Rakyat Indoensia tidak akan ketawa bila Timor Leste merana atau kecewa bila maju dan melapui Indonesia
Sekali Merdeka Tetap Merdeka!!
Pertama membaca tulisan anda, saya berharap mendapatkan pemberitaan yang seimbang. Tetapi yang saya dapatkan cenderung sisi emosi yang anda utamakan.
Bahasa anda seperti Bahasa “gemes” kepada bangsa yang dianggap menjajah lebih terasa dalam tulisan anda. Misalnya : “Fasilitas umum dan perkantoran ynag Indonesia bangun selama 24 tahun dihancurkan semua termasuk yang bukan mereka bangun”. Apa betul semua? Kalau begitu jalan – jalan di sana yang dibangun masa Indonesia aspalnya dikulitin semua yaaa? Gereja dan Patung Yesus yang besar yang juga dibangung masa Indonesia itu juga dirobohkan semua? Demikian juga dengan sekolah dan fasilitas kesehatan? Apa anda telah survei semua? Rasanya kok berlebihan. Ada yang dirusak/dibakar? yaa. Apa semua dirusak/dibakar? rasanya kok tidak. Seolah-olah kok tidak ada sama sekali sumbangsih Indonesia ke Timor Leste. Saya rasa masih ada sebagian yang dimanfaatkan oleh warga disana sebagaimana saya sendiri pernah bersekolah di bekas gedung sekolah zaman Belanda di Surabaya yang masih dimanfaatkan sampai sekarang.
Tapi dalam hati saya anggap wajar, mungkin apa yang anda rasakan (bahkan juga mungkin rakyat Timor Leste yang lain) sama seperti yang dirasakan oleh bangsa Indonesia di awal – awal kemerdekaannya dengan Belanda. Bisa jadi, sekian tahun ke depan, saat generasi baru tumbuh membuat hubungan antar dua bangsa tersebut menjadi lebih baik. Tanpa harus mengorek-orek luka lama.
GREAT!! I See, … setiap kali berjumpa dengan para eks-pengungsi Timor Leste, saya selalu menganjurkan untuk memikirkan satu hal yang cukup penting: FILA BA TIMOR LOROSAE…