TIMOR’S OIL – By Tom Clarke

TIMOR’S OIL

This article is part of Right Now’s March issue, focusing on East Timor.

By Tom Clarke

Published March 10, 2014

Since the discovery of vast oil deposits under the Timor Sea in the early 1970s, oil has been the ever-present third player in Australia’s relationship with East Timor.

Prior to the Indonesian invasion of East Timor, Australia’s ambassador to Indonesia Richard Woolcott infamously sent a cable back to his political masters in Canberra suggesting Australia’s chances of securing a more lucrative deal over the Timor Sea resources would be better if Indonesia controlled East Timor. It read:

“This could be much more readily negotiated with Indonesia by closing the present gap than with Portugal or an independent Portuguese Timor.”

This set the tone for the next 25 years of Australia’s response to Indonesia’s illegal occupation of East Timor which saw the death of over 200,000 Timorese men, women and children. Australia was all too eager to cosy up to the Suharto dictatorship for political and economic gain.

The 1989 Timor Gap Treaty confirmed this for the world to see.

The treaty was signed by Australia’s foreign minister at the time, Gareth Evans, and Indonesia’s foreign minister, Ali Alatas, as they clinked champagne glasses in an aeroplane flying high above the Timor Sea. Two men divvying up resources that did not belong to either of the nations they represented. It was Timor’s Oil.

 

Platform-Bayu-Undan-2012

Platform-Bayu-Undan-2012

Today, an independent East Timor enjoys 90% of the government revenue from one of the key fields in the Timor Sea, Bayu-Undan. However, the dispute over other significant deposits located nearby is still raging and some deposits, namely the Laminaria-Corallina fields, have nearly been depleted without Timor receiving a cent.

The dispute is likely to continue in one form or another until permanent maritime boundaries are established between East Timor and Australia.

East Timor has never had permanent maritime boundaries. It wants permanent boundaries and, as a sovereign nation, it is entitled to have them. Australia however, has consistently refused to establish boundaries with East Timor. Instead it has jostle our tiny neighbour into a series of temporary resource sharing arrangements – all of which short-change East Timor out of billions of dollars in government revenues to which it is entitled.

To understand the complexities of the current dispute, it helps to step through the various milestones that led to the current state of play.

In 1972 Australia and Indonesia agreed on a seabed boundary. This was based on the now out-dated “continental shelf” argument and the boundary was a lot closer to Indonesia than Australia. Because Portugal, the then colonial ruler of Timor, did not participate in the negotiations, a gap was left in the boundary. This became know as “The Timor Gap”.

Continue reading

MINYAK TIMOR – Oleh Tom Clarke

MINYAK TIMOR
Artikel ini adalah bagian dari edisi Maret Right Now , dengan fokus pada Timor Timur .

(Diterjemahkan dengan bantuan Google Translate)

Oleh Tom Clarke

Sejak penemuan cadangan minyak besar di bawah Laut Timor pada awal tahun 1970an , minyak telah menjadi pemain ketiga yang selalu ada dalam hubungan Australia dengan Timor Timur.
Sebelum invasi Indonesia ke Timor Timur, Duta Besar Australia untuk Indonesia Richard Woolcott secara memalukan mengirimkan pesan kabel kembali ke master politiknya di Canberra, menunjukkan kemungkinan mengamankan kesepakatan lebih menguntungkan atas sumber daya Laut Timor, Australia akan lebih baik jika Indonesia menguasai Timor Timur . Bunyinya:
Ini bisa lebih mudah dinegosiasikan dengan Indonesia dengan menutup kesenjangan ini dibandingkan dengan Portugal atau Timor Portugis merdeka.
Ini mengatur nada untuk 25 tahun ke depan, respon Australia terhadap pendudukan ilegal Indonesia atas Timor Timur yang melihat kematian lebih dari 200.000 orang Timor, pria, wanita dan anak-anak. Diatas segalanya, Australia terlalu bersemangat untuk nyaman dengan kediktatoran Suharto untuk kepentingan politik dan ekonominya.
The Timor Gap Treaty 1989 menegaskan hal ini bagi dunia untuk melihat masalah ini.
Perjanjian itu ditandatangani oleh menteri luar negeri Australia pada saat itu , Gareth Evans , dan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas , karena mereka bersulang gelas sampanye di pesawat terbang yang terbang tinggi di atas Laut Timor. Dua pria ini membagi- sumber daya yang tidak termasuk dalam salah satu negara yang mereka wakili,itu adalah Minyaknya Timor.

Platform-Bayu-Undan-2012

Platform-Bayu-Undan-2012

Hari ini , Timor Timur yang merdeka menikmati 90 % dari pendapatan pemerintah dari salah satu bidang utama di Laut Timor, yaitu lading minyak dan gas Bayu -Undan. Namun, sengketa deposito penting lain yang terletak di dekatnya masih mengamuk dan beberapa deposito, yaitu bidang Laminaria – Corallina, telah hampir habis disedot tanpa Timor menerima satu sen pun.
Sengketa ini kemungkinan akan berlanjut dalam satu bentuk atau lain sampai batas maritim permanen dibangun antara Timor-Timur dan Australia.

Continue reading

Juara Turnamen di Jepang, Timnas U-14 Timor Leste Wujudkan Mimpi Mereka di Film “A Barefoot Dream”-April 2014

 

Timor-Leste-U14

Timor-Leste-U14 – April 2014

Pernahkah anda menonton film drama berjudul “A Barefoot Dream”? Sebuah film drama yang berlatarbelakang sepakbola usia dini dari negara tetangga kita Timor Leste. Di film tersebut, diceritakan seorang mantan pemain bola asal Korea yang gagal membawa timnya juara, Kim Won Kang bepergian ke sebuah kota di Timor Leste. Disana, ia menjadi pelatih sepakbola bagi sebuah klub lokal. Dibantu seorang temannya, klub yang berisi anak-anak muda Timor Leste ini terus juara di tingkat nasional, hingga akhirnya berhasil tampil di sebuah turnamen internasional. Dalam turnamen tersebut, tim asal bekas provinsi Indonesia ini juga terus melaju dan mengalahkan semua lawan-lawannya dari berbagai negara, salah satunya adalah Indonesia. Film itu sungguh menggambarkan bagaimana perkembangan sepak bola di Timor Leste sana. Apa lagi sepak bola Timor Leste beberapa tahun lalu mendapatkan perhatian FIFA untuk program pembinaan organisasi dan pelatihan usia dini.

Dan tahukah anda, tahun ini mimpi yang dibayangkan anak-anak muda Timor Leste dalam film tersebut akhirnya terwujud nyata. Timnas U-14 Timor Leste memastikan diri menjadi juara di turnamen Jenesys 2.0 Japan Asean Football Exchange Program di Osaka Jepang. Dalam turnamen yang diikuti seluruh negara Asean plus tuan rumah Jepang, Timnas U-14 Timor Leste berhasil memuncaki klasemen setelah dalam pertandingan terakhirnya mengalahkan Laos 2-0.

Posisi runner up direbut oleh Thailand, yang juga di pertandingan terakhirnya mengalahkan Laos 1-0. Sedangkan tuan rumah Jepang yang diwakili oleh tim U-14 dari klub Cerezo Osaka harus puas di posisi ke 7. Sementara itu Indonesia yang diwakili Timnas U-14 asuhan Fachri Husaini terpuruk di posisi 10 dari 12 peserta turnamen.

Continue reading

PT PP Bangun Gedung Tertinggi di Timor Leste

TIMOR LESTE, KOMPAS.com -  PT Pembangunan Perumahan (PT PP) (Persero) Tbk  mulai mengerjakan proyek pembangunan Gedung AGP Square di Dili, Timor Leste. Nantinya, AGP Square akan menjadi gedung tertinggi di negeri mantan provinsi ke 27 Indonesia tersebut.

PM Xanana berbincang dengan Tomy Winata saat akan melakukan pemancangan tiang untuk pemangunan Gedung AGP Square yang dibangun di Kota Dili berlantai 26. Foto TTN/Gantry Meilana

PM Xanana berbincang dengan Tomy Winata saat akan melakukan pemancangan tiang untuk pemangunan Gedung AGP Square yang dibangun di Kota Dili berlantai 26. Foto TTN/Gantry Meilana

 

Ground breaking proyek ini yang dilaksanakan di lokasi proyek Sabtu (16/11/2013), dengan dihadiri oleh para pejabat Pemerintah Timor Leste seperti Perdana Menteri Xanana Gusmao,  Wakil Perdana Menteri Timor Leste Fernando La Sama de Araujo, Tommy Winata selaku Pemberi Kerja dan Direktur Utama PTPP Bambang Triwibowo selaku penerima kerja, serta beberapa pengusaha di Timor Leste.

Proyek senilai Rp 1 triliun ini akan memakan masa pengerjaan selama 2 tahun dengan berdiri di atas lahan 15.000 m2, luas bangunan 56.000 m2 dan ketinggian 26 lantai. Gedung ini memiliki konsep sebagai ikon di kawasan elite di kota Dili yang menyediakan fasilitas Mall, Perkantoran, Apartemen dan Hotel di Negara Timor Leste.

’’Gedung AGP Square akan menjadi gedung tertinggi di Timor Leste dan konsepnya sebagai ikon untuk kawasan elite di Kota Dili dengan fasilitas yang lengkap. Selain itu, keberadaan gedung AGP Square ini akan memperkuat PT PP (persero) untuk semakin eksis dalam bisnis ini,’’ sebut Direktur utama PT PP (persero), Tbk Bambang Triwibowo dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

Dengan adanya gedung ini, sebut dia, nantinya diharapkan para pekerja asing dan warga Timor Leste yang selama ini pergi keluar negeri untuk weekend, tidak perlu lagi keluar negeri.

PM Xanana ketika memberikan sambutan dalam acara pemancangan tiang pertama Gedung AGP Square milik Tomy Winata dan Franky Tjahyadikarta yang akan dibangun di pusat kota Dili. Foto: TTN/Gantry Meilana

PM Xanana ketika memberikan sambutan dalam acara pemancangan tiang pertama Gedung AGP Square milik Tomy Winata dan Franky Tjahyadikarta yang akan dibangun di pusat kota Dili. Foto: TTN/Gantry Meilana 

Sebelumnya PT PP juga menyelesaikan proyek Gedung Kementerian Keuangan dan Jalan Likuisa serta melaksanakan proyek Jalan Tibar di Timor Leste.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/11/17/1805271/PT.PP.Bangun.Gedung.Tertinggi.di.Timor.Leste

Australia issues diplomatic warning to East Timor saying maritime boundaries case risks relationship

Australia Mengeluarkan “Diplomatic Warning” Untuk Timor-Leste Karena Masalah Batas Laut Bisa Beresiko Terhadap Hubungan Kedua Negara
ABC – March 17, 2014
The Australian Government has warned East Timor there will be tough consequences over its decision to launch international arbitration proceedings over its maritime boundary with Australia.
The warning, aiming to “send a message” to the Timorese leadership, was delivered through an intermediary in direct language by a highly placed Australian diplomat one week ago.
The senior diplomat repeatedly warned the Timorese leadership they were being “naive to think the arbitration and maritime boundary issue would not affect the bilateral relationship”.
The message came a fortnight after Australia applied to the Permanent Court of Arbitration in The Hague to have the evidence of a former Australian intelligence officer, Witness K, struck out of the arbitration proceedings between East Timor and Australia on the maritime boundary.
The evidence relates to an Australian spying operation during 2004 treaty negotiations over the maritime boundary, when agents from Australia’s Secret Intelligence Service (ASIS) bugged the conference room of the then East Timorese prime minister.
Tonight, the ABC’s Four Corners program examines the events that have seen rising tensions between the two neighbours.

Continue reading

Film Korea Tentang Anak-Anak Timor-Leste “A Barefoot Dream” Disyuting di Timor-Leste Pada Tahun 2004 (KISAH NYATA)

A Barefoot Dream [Korea|2010]

BERDASARKAN KISAH NYATA!!! SYUTING DI TIMOR-LESTE PADA TAHUN 2004, DAN DIRILIS KE PUBLIK PADA TAHUN 2010, DAN DISELEKSI OLEH LEMBAGA FILM KOREA – SELATAN UNTUK MASUK OSCAR NOMINEE UNTUK FILM SEMI-DOKUMENTER.

Tidak jarang kekuatan sebuah mimpi, harapan, dan kepercayaan diangkat menjadi tema pokok dalam suatu film. Di tahun 2010 ini, A Barefoot Dream yang merupakan sebuah film drama korea adalah salah satunya. Bersama Tae-gyun Kim yang sebelumnya dikenal melalui WaSanGo (Volcano High) di tahun 2001 dan Crossing pada 2008 duduk di bangku sutradara, film ini sukses menjadi official selection Korea di ajang Academy Awards 2010 untuk “bertarung” dengan banyak film dari Negara lainnya, termasuk Alangkah Lucunya (Negeri Ini) dari Indonesia dalam kategori Best Foreign Language.

TONTON FULL MOVIENYA DI YOUTUBE DENGAN MENG-CLICK URL DIBAWAH INI:

Bercerita mengenai Kim Wong-Kang, mantan pemain tim nasional sepak bola Korea Selatan yang mengalami kegagalan dalam berbisnis di Kalimantan pada akhir tahun 90-an. Kegagalannya itu membuat dirinya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Timor Leste yang ketika baru saja merdeka lepas dari Indonesia dengan besar harapan dan anggapan bisa mudah memulai bisnis baru di Negara pertama yang merdeka di abad ke-21 tersebut. Namun ternyata anggapannya salah, Kim kembali mengalami kegagalan di bisnisnya kali ini. Berbekal pengalamannya sebagai pemain sepak bola, Kim banting setir menjadi pelatih tim sepak bola remaja setempat setelah kegagalannya yang kedua. Namun sayang, keinginan mulianya itu harus diwarnai dengan perjuangan yang tidak mudah, penuh cobaan dan ujian dari lingkungan sekitarnya termasuk keadaan Timor Leste yang masih belum stabil oleh banyaknya baku tembak dan kerusuhan yang masih terjadi. Bagian awal film ini terkesan masih kurang tegas dan seakan-akan masih meraba dalam membawa dan menyuguhkan cerita film. Hal ini terlihat pada pengemasan drama yang bisa dikatakan kurang berhasil dalam membawa emosi penonton. Pun pada pada penggunaan bahasa yang beragam dan terkesan tak beraturan, yah dalam film ini digunakan bahasa Korea, Inggris dengan aksen Korea, Jepang, Timor Leste, dan tidak ketinggalan pula bahasa Indonesia.

Continue reading

Australia sadap operasi militer Indonesia di Timor-timur 1999

Merdeka.com – Bukan sekali dua kali Australia menyadap pejabat di Indonesia. Beberapa fakta menunjukkan intelijen Australia pun menyadap komunikasi militer Indonesia tahun 1999 saat krisis Timor Timur.

Saat itu Defence Signals Directorate (DSD) begitu leluasa mengorek beberapa informasi penting dari komunikasi militer Indonesia. Australia memang menjadi salah satu tulang punggung United Nations Mission in East Timor (UNAMET). Misi PBB yang mengawasi jalannya referendum Timor-timur. Akan tetap bergabung dengan Indonesia, atau memilih merdeka. UNAMET mulai bertugas 11 Juni 1999.

Fakta penyadapan ini dituturkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Roy Suryo , yang juga pakar teknologi informasi. Beberapa tulisan juga telah dipublikasikan di Sidney Morning Herald edisi 14 Maret 2002.

Tak tanggung-tanggung, yang disadap tokoh-tokoh kunci di Badan Intelijen Negara dan petinggi TNI/Polri.

Berikut jalannya penyadapan tahun 1999 tersebut.

1. Tim elite Tribuana menyusup ke Timor-timur 

Merdeka.com – Intelijen Australia mendapat informasi satuan elite Kopassus yang diberi sandi Satgas Tribuana masuk ke Timor-timur. Australia menduga pasukan ini melaksanakan misi terselubung. Percakapan tersebut diberi tanggal 9 Februari 1999.

Diketahui salah satu Komandan Satgas Tribuana adalah Letkol Yayat Sudrajat. Perwira menengah Korps Baret Merah ini kemudian menjalani sidang Pengadilan HAM Ad Hoc Jakarta Pusat, 30 Desember 2002.

Yayat mengaku tugas Kopassus di sana bukan operasi militer, tetapi operasi pembinaan atau teritorial. Dia juga membantah Kopassus terlibat kerusuhan berdarah di Liquica tahun 1999.

Yayat akhirnya divonis bebas karena tak terbukti berperan dalam pelanggaran HAM di Timor-timur.

2. Percakapan Tribuana dengan Eurico Guterress

Merdeka.com – Eurico Guterres adalah komandan milisi pro-integrasi. Dia gigih memperjuangkan bergabungnya Timtim dengan Indonesia.

Intelijen Australia sempat menangkap pembicaraan Eurico dengan Tim Tribuana tanggal 14 Februari 1999. Saat itu Tim elite Kopassus tersebut menanyakan anak buah Eurico yang jadi korban kerusuhan.

Eurico menjadi komandan laskar Mahidi, mati hidup ikut Indonesia. Tribuana menjanjikan Eurico, TNI akan memberikan perhatian.

“Kami menjamin Brigjen Simbolon peduli pada anak buahnya yang terluka,” garansi Tim Tribuana.

3. Danrem tanyakan kekuatan milisi

Merdeka.com – Intelijen Australia juga menyadap percakapan Komandan Korem 164/Wiradharma Kolonel Tono Suratman dengan Eurico Guterres. Tono menanyakan dimana kekuatan massa pro-integrasi yang bisa unjuk gigi.

Saat itu Eurico melaporkan ada 400 milisi bersiaga di luar sebuah hotel di Dili. Penyadapan ini menunjukkan TNI punya hubungan dekat dengan milisi pro-integrasi. Percakapan ini tercatat tanggal 5 Mei 1999.

Tahun 2002, Eurico sempat diadili karena diduga terlibat pelanggaran HAM dan kerusuhan di Timor-timur saat referendum. Dia dijatuhi hukuman 10 tahun. Namun dalam peninjauan kembali (PK), Mahkamah Agung memutuskan Guterress bebas.

Kolonel Tono sendiri tetap bertugas di TNI. Sempat menjadi Pangdam VI Tanjungpura di Kalimantan dan Asisten Operasi Kasad, dengan pangkat mayor jenderal.

4. TNI di belakang demo anti-UNAMET

Merdeka.com – Salah satu info penting yang disadap intelijen Australia adalah percakapan petinggi Badan Intelijen Strategi ABRI Brigjen Ariffudin. Terungkap TNI turut membantu demonstrasi massa pro-integrasi terhadap UNAMET.

TNI menyediakan material demonstrasi anti misi PBB di Timor-timur ini. Di antaranya bendera dan kaos.

“5.000 kaos sudah disiapkan dan 10.000 lainnya masih diproduksi.” Demikian informasi per tanggal 9 Agustus 1999.

Selain itu ada juga penyadapan percakapan antara Mayjen Zaky Anwar Makarim dengan perwira polisi terkait penghitungan suara referendum.

5. Tim Kiper-9 buru milisi prokemerdekaan

Merdeka.com – 20 September 2009, Australia menyadap percakapan antar para petinggi TNI. Mayjen Zaky Anwar Makarim, Letjen Yunus Yosfiah dan Letjen Hendropriyono mendiskusikan soal ‘pemindahan populasi’.

Diduga merupakan upaya antisipasi jika referendum tanggal 30 Agustus, dimenangkan massa pro-kemerdekaan.

Tanggal 21 Agustus, ada percakapan antara TNI dengan politikus pro-Indonesia Francisco Xavier Lopez da Cruz. Intinya Kopassus membentuk tim pemburu Kiper-9.

Misinya memburu tokoh-tokoh pro-kemerdekaan, atau orang-orang pro-Indonesia yang membelot pada lawan.

Selengkapnya: MERDEKA.COM