TIMOR’S OIL – By Tom Clarke

TIMOR’S OIL

This article is part of Right Now’s March issue, focusing on East Timor.

By Tom Clarke

Published March 10, 2014

Since the discovery of vast oil deposits under the Timor Sea in the early 1970s, oil has been the ever-present third player in Australia’s relationship with East Timor.

Prior to the Indonesian invasion of East Timor, Australia’s ambassador to Indonesia Richard Woolcott infamously sent a cable back to his political masters in Canberra suggesting Australia’s chances of securing a more lucrative deal over the Timor Sea resources would be better if Indonesia controlled East Timor. It read:

“This could be much more readily negotiated with Indonesia by closing the present gap than with Portugal or an independent Portuguese Timor.”

This set the tone for the next 25 years of Australia’s response to Indonesia’s illegal occupation of East Timor which saw the death of over 200,000 Timorese men, women and children. Australia was all too eager to cosy up to the Suharto dictatorship for political and economic gain.

The 1989 Timor Gap Treaty confirmed this for the world to see.

The treaty was signed by Australia’s foreign minister at the time, Gareth Evans, and Indonesia’s foreign minister, Ali Alatas, as they clinked champagne glasses in an aeroplane flying high above the Timor Sea. Two men divvying up resources that did not belong to either of the nations they represented. It was Timor’s Oil.

 

Platform-Bayu-Undan-2012

Platform-Bayu-Undan-2012

Today, an independent East Timor enjoys 90% of the government revenue from one of the key fields in the Timor Sea, Bayu-Undan. However, the dispute over other significant deposits located nearby is still raging and some deposits, namely the Laminaria-Corallina fields, have nearly been depleted without Timor receiving a cent.

The dispute is likely to continue in one form or another until permanent maritime boundaries are established between East Timor and Australia.

East Timor has never had permanent maritime boundaries. It wants permanent boundaries and, as a sovereign nation, it is entitled to have them. Australia however, has consistently refused to establish boundaries with East Timor. Instead it has jostle our tiny neighbour into a series of temporary resource sharing arrangements – all of which short-change East Timor out of billions of dollars in government revenues to which it is entitled.

To understand the complexities of the current dispute, it helps to step through the various milestones that led to the current state of play.

In 1972 Australia and Indonesia agreed on a seabed boundary. This was based on the now out-dated “continental shelf” argument and the boundary was a lot closer to Indonesia than Australia. Because Portugal, the then colonial ruler of Timor, did not participate in the negotiations, a gap was left in the boundary. This became know as “The Timor Gap”.

Continue reading

MINYAK TIMOR – Oleh Tom Clarke

MINYAK TIMOR
Artikel ini adalah bagian dari edisi Maret Right Now , dengan fokus pada Timor Timur .

(Diterjemahkan dengan bantuan Google Translate)

Oleh Tom Clarke

Sejak penemuan cadangan minyak besar di bawah Laut Timor pada awal tahun 1970an , minyak telah menjadi pemain ketiga yang selalu ada dalam hubungan Australia dengan Timor Timur.
Sebelum invasi Indonesia ke Timor Timur, Duta Besar Australia untuk Indonesia Richard Woolcott secara memalukan mengirimkan pesan kabel kembali ke master politiknya di Canberra, menunjukkan kemungkinan mengamankan kesepakatan lebih menguntungkan atas sumber daya Laut Timor, Australia akan lebih baik jika Indonesia menguasai Timor Timur . Bunyinya:
Ini bisa lebih mudah dinegosiasikan dengan Indonesia dengan menutup kesenjangan ini dibandingkan dengan Portugal atau Timor Portugis merdeka.
Ini mengatur nada untuk 25 tahun ke depan, respon Australia terhadap pendudukan ilegal Indonesia atas Timor Timur yang melihat kematian lebih dari 200.000 orang Timor, pria, wanita dan anak-anak. Diatas segalanya, Australia terlalu bersemangat untuk nyaman dengan kediktatoran Suharto untuk kepentingan politik dan ekonominya.
The Timor Gap Treaty 1989 menegaskan hal ini bagi dunia untuk melihat masalah ini.
Perjanjian itu ditandatangani oleh menteri luar negeri Australia pada saat itu , Gareth Evans , dan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas , karena mereka bersulang gelas sampanye di pesawat terbang yang terbang tinggi di atas Laut Timor. Dua pria ini membagi- sumber daya yang tidak termasuk dalam salah satu negara yang mereka wakili,itu adalah Minyaknya Timor.

Platform-Bayu-Undan-2012

Platform-Bayu-Undan-2012

Hari ini , Timor Timur yang merdeka menikmati 90 % dari pendapatan pemerintah dari salah satu bidang utama di Laut Timor, yaitu lading minyak dan gas Bayu -Undan. Namun, sengketa deposito penting lain yang terletak di dekatnya masih mengamuk dan beberapa deposito, yaitu bidang Laminaria – Corallina, telah hampir habis disedot tanpa Timor menerima satu sen pun.
Sengketa ini kemungkinan akan berlanjut dalam satu bentuk atau lain sampai batas maritim permanen dibangun antara Timor-Timur dan Australia.

Continue reading

Juara Turnamen di Jepang, Timnas U-14 Timor Leste Wujudkan Mimpi Mereka di Film “A Barefoot Dream”-April 2014

 

Timor-Leste-U14

Timor-Leste-U14 – April 2014

Pernahkah anda menonton film drama berjudul “A Barefoot Dream”? Sebuah film drama yang berlatarbelakang sepakbola usia dini dari negara tetangga kita Timor Leste. Di film tersebut, diceritakan seorang mantan pemain bola asal Korea yang gagal membawa timnya juara, Kim Won Kang bepergian ke sebuah kota di Timor Leste. Disana, ia menjadi pelatih sepakbola bagi sebuah klub lokal. Dibantu seorang temannya, klub yang berisi anak-anak muda Timor Leste ini terus juara di tingkat nasional, hingga akhirnya berhasil tampil di sebuah turnamen internasional. Dalam turnamen tersebut, tim asal bekas provinsi Indonesia ini juga terus melaju dan mengalahkan semua lawan-lawannya dari berbagai negara, salah satunya adalah Indonesia. Film itu sungguh menggambarkan bagaimana perkembangan sepak bola di Timor Leste sana. Apa lagi sepak bola Timor Leste beberapa tahun lalu mendapatkan perhatian FIFA untuk program pembinaan organisasi dan pelatihan usia dini.

Dan tahukah anda, tahun ini mimpi yang dibayangkan anak-anak muda Timor Leste dalam film tersebut akhirnya terwujud nyata. Timnas U-14 Timor Leste memastikan diri menjadi juara di turnamen Jenesys 2.0 Japan Asean Football Exchange Program di Osaka Jepang. Dalam turnamen yang diikuti seluruh negara Asean plus tuan rumah Jepang, Timnas U-14 Timor Leste berhasil memuncaki klasemen setelah dalam pertandingan terakhirnya mengalahkan Laos 2-0.

Posisi runner up direbut oleh Thailand, yang juga di pertandingan terakhirnya mengalahkan Laos 1-0. Sedangkan tuan rumah Jepang yang diwakili oleh tim U-14 dari klub Cerezo Osaka harus puas di posisi ke 7. Sementara itu Indonesia yang diwakili Timnas U-14 asuhan Fachri Husaini terpuruk di posisi 10 dari 12 peserta turnamen.

Continue reading

PT PP Bangun Gedung Tertinggi di Timor Leste

TIMOR LESTE, KOMPAS.com -  PT Pembangunan Perumahan (PT PP) (Persero) Tbk  mulai mengerjakan proyek pembangunan Gedung AGP Square di Dili, Timor Leste. Nantinya, AGP Square akan menjadi gedung tertinggi di negeri mantan provinsi ke 27 Indonesia tersebut.

PM Xanana berbincang dengan Tomy Winata saat akan melakukan pemancangan tiang untuk pemangunan Gedung AGP Square yang dibangun di Kota Dili berlantai 26. Foto TTN/Gantry Meilana

PM Xanana berbincang dengan Tomy Winata saat akan melakukan pemancangan tiang untuk pemangunan Gedung AGP Square yang dibangun di Kota Dili berlantai 26. Foto TTN/Gantry Meilana

 

Ground breaking proyek ini yang dilaksanakan di lokasi proyek Sabtu (16/11/2013), dengan dihadiri oleh para pejabat Pemerintah Timor Leste seperti Perdana Menteri Xanana Gusmao,  Wakil Perdana Menteri Timor Leste Fernando La Sama de Araujo, Tommy Winata selaku Pemberi Kerja dan Direktur Utama PTPP Bambang Triwibowo selaku penerima kerja, serta beberapa pengusaha di Timor Leste.

Proyek senilai Rp 1 triliun ini akan memakan masa pengerjaan selama 2 tahun dengan berdiri di atas lahan 15.000 m2, luas bangunan 56.000 m2 dan ketinggian 26 lantai. Gedung ini memiliki konsep sebagai ikon di kawasan elite di kota Dili yang menyediakan fasilitas Mall, Perkantoran, Apartemen dan Hotel di Negara Timor Leste.

’’Gedung AGP Square akan menjadi gedung tertinggi di Timor Leste dan konsepnya sebagai ikon untuk kawasan elite di Kota Dili dengan fasilitas yang lengkap. Selain itu, keberadaan gedung AGP Square ini akan memperkuat PT PP (persero) untuk semakin eksis dalam bisnis ini,’’ sebut Direktur utama PT PP (persero), Tbk Bambang Triwibowo dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

Dengan adanya gedung ini, sebut dia, nantinya diharapkan para pekerja asing dan warga Timor Leste yang selama ini pergi keluar negeri untuk weekend, tidak perlu lagi keluar negeri.

PM Xanana ketika memberikan sambutan dalam acara pemancangan tiang pertama Gedung AGP Square milik Tomy Winata dan Franky Tjahyadikarta yang akan dibangun di pusat kota Dili. Foto: TTN/Gantry Meilana

PM Xanana ketika memberikan sambutan dalam acara pemancangan tiang pertama Gedung AGP Square milik Tomy Winata dan Franky Tjahyadikarta yang akan dibangun di pusat kota Dili. Foto: TTN/Gantry Meilana 

Sebelumnya PT PP juga menyelesaikan proyek Gedung Kementerian Keuangan dan Jalan Likuisa serta melaksanakan proyek Jalan Tibar di Timor Leste.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/11/17/1805271/PT.PP.Bangun.Gedung.Tertinggi.di.Timor.Leste

Australia issues diplomatic warning to East Timor saying maritime boundaries case risks relationship

Australia Mengeluarkan “Diplomatic Warning” Untuk Timor-Leste Karena Masalah Batas Laut Bisa Beresiko Terhadap Hubungan Kedua Negara
ABC – March 17, 2014
The Australian Government has warned East Timor there will be tough consequences over its decision to launch international arbitration proceedings over its maritime boundary with Australia.
The warning, aiming to “send a message” to the Timorese leadership, was delivered through an intermediary in direct language by a highly placed Australian diplomat one week ago.
The senior diplomat repeatedly warned the Timorese leadership they were being “naive to think the arbitration and maritime boundary issue would not affect the bilateral relationship”.
The message came a fortnight after Australia applied to the Permanent Court of Arbitration in The Hague to have the evidence of a former Australian intelligence officer, Witness K, struck out of the arbitration proceedings between East Timor and Australia on the maritime boundary.
The evidence relates to an Australian spying operation during 2004 treaty negotiations over the maritime boundary, when agents from Australia’s Secret Intelligence Service (ASIS) bugged the conference room of the then East Timorese prime minister.
Tonight, the ABC’s Four Corners program examines the events that have seen rising tensions between the two neighbours.

Continue reading

Film Korea Tentang Anak-Anak Timor-Leste “A Barefoot Dream” Disyuting di Timor-Leste Pada Tahun 2004 (KISAH NYATA)

A Barefoot Dream [Korea|2010]

BERDASARKAN KISAH NYATA!!! SYUTING DI TIMOR-LESTE PADA TAHUN 2004, DAN DIRILIS KE PUBLIK PADA TAHUN 2010, DAN DISELEKSI OLEH LEMBAGA FILM KOREA – SELATAN UNTUK MASUK OSCAR NOMINEE UNTUK FILM SEMI-DOKUMENTER.

Tidak jarang kekuatan sebuah mimpi, harapan, dan kepercayaan diangkat menjadi tema pokok dalam suatu film. Di tahun 2010 ini, A Barefoot Dream yang merupakan sebuah film drama korea adalah salah satunya. Bersama Tae-gyun Kim yang sebelumnya dikenal melalui WaSanGo (Volcano High) di tahun 2001 dan Crossing pada 2008 duduk di bangku sutradara, film ini sukses menjadi official selection Korea di ajang Academy Awards 2010 untuk “bertarung” dengan banyak film dari Negara lainnya, termasuk Alangkah Lucunya (Negeri Ini) dari Indonesia dalam kategori Best Foreign Language.

TONTON FULL MOVIENYA DI YOUTUBE DENGAN MENG-CLICK URL DIBAWAH INI:

Bercerita mengenai Kim Wong-Kang, mantan pemain tim nasional sepak bola Korea Selatan yang mengalami kegagalan dalam berbisnis di Kalimantan pada akhir tahun 90-an. Kegagalannya itu membuat dirinya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Timor Leste yang ketika baru saja merdeka lepas dari Indonesia dengan besar harapan dan anggapan bisa mudah memulai bisnis baru di Negara pertama yang merdeka di abad ke-21 tersebut. Namun ternyata anggapannya salah, Kim kembali mengalami kegagalan di bisnisnya kali ini. Berbekal pengalamannya sebagai pemain sepak bola, Kim banting setir menjadi pelatih tim sepak bola remaja setempat setelah kegagalannya yang kedua. Namun sayang, keinginan mulianya itu harus diwarnai dengan perjuangan yang tidak mudah, penuh cobaan dan ujian dari lingkungan sekitarnya termasuk keadaan Timor Leste yang masih belum stabil oleh banyaknya baku tembak dan kerusuhan yang masih terjadi. Bagian awal film ini terkesan masih kurang tegas dan seakan-akan masih meraba dalam membawa dan menyuguhkan cerita film. Hal ini terlihat pada pengemasan drama yang bisa dikatakan kurang berhasil dalam membawa emosi penonton. Pun pada pada penggunaan bahasa yang beragam dan terkesan tak beraturan, yah dalam film ini digunakan bahasa Korea, Inggris dengan aksen Korea, Jepang, Timor Leste, dan tidak ketinggalan pula bahasa Indonesia.

Continue reading

Australia sadap operasi militer Indonesia di Timor-timur 1999

Merdeka.com – Bukan sekali dua kali Australia menyadap pejabat di Indonesia. Beberapa fakta menunjukkan intelijen Australia pun menyadap komunikasi militer Indonesia tahun 1999 saat krisis Timor Timur.

Saat itu Defence Signals Directorate (DSD) begitu leluasa mengorek beberapa informasi penting dari komunikasi militer Indonesia. Australia memang menjadi salah satu tulang punggung United Nations Mission in East Timor (UNAMET). Misi PBB yang mengawasi jalannya referendum Timor-timur. Akan tetap bergabung dengan Indonesia, atau memilih merdeka. UNAMET mulai bertugas 11 Juni 1999.

Fakta penyadapan ini dituturkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Roy Suryo , yang juga pakar teknologi informasi. Beberapa tulisan juga telah dipublikasikan di Sidney Morning Herald edisi 14 Maret 2002.

Tak tanggung-tanggung, yang disadap tokoh-tokoh kunci di Badan Intelijen Negara dan petinggi TNI/Polri.

Berikut jalannya penyadapan tahun 1999 tersebut.

1. Tim elite Tribuana menyusup ke Timor-timur 

Merdeka.com – Intelijen Australia mendapat informasi satuan elite Kopassus yang diberi sandi Satgas Tribuana masuk ke Timor-timur. Australia menduga pasukan ini melaksanakan misi terselubung. Percakapan tersebut diberi tanggal 9 Februari 1999.

Diketahui salah satu Komandan Satgas Tribuana adalah Letkol Yayat Sudrajat. Perwira menengah Korps Baret Merah ini kemudian menjalani sidang Pengadilan HAM Ad Hoc Jakarta Pusat, 30 Desember 2002.

Yayat mengaku tugas Kopassus di sana bukan operasi militer, tetapi operasi pembinaan atau teritorial. Dia juga membantah Kopassus terlibat kerusuhan berdarah di Liquica tahun 1999.

Yayat akhirnya divonis bebas karena tak terbukti berperan dalam pelanggaran HAM di Timor-timur.

2. Percakapan Tribuana dengan Eurico Guterress

Merdeka.com – Eurico Guterres adalah komandan milisi pro-integrasi. Dia gigih memperjuangkan bergabungnya Timtim dengan Indonesia.

Intelijen Australia sempat menangkap pembicaraan Eurico dengan Tim Tribuana tanggal 14 Februari 1999. Saat itu Tim elite Kopassus tersebut menanyakan anak buah Eurico yang jadi korban kerusuhan.

Eurico menjadi komandan laskar Mahidi, mati hidup ikut Indonesia. Tribuana menjanjikan Eurico, TNI akan memberikan perhatian.

“Kami menjamin Brigjen Simbolon peduli pada anak buahnya yang terluka,” garansi Tim Tribuana.

3. Danrem tanyakan kekuatan milisi

Merdeka.com – Intelijen Australia juga menyadap percakapan Komandan Korem 164/Wiradharma Kolonel Tono Suratman dengan Eurico Guterres. Tono menanyakan dimana kekuatan massa pro-integrasi yang bisa unjuk gigi.

Saat itu Eurico melaporkan ada 400 milisi bersiaga di luar sebuah hotel di Dili. Penyadapan ini menunjukkan TNI punya hubungan dekat dengan milisi pro-integrasi. Percakapan ini tercatat tanggal 5 Mei 1999.

Tahun 2002, Eurico sempat diadili karena diduga terlibat pelanggaran HAM dan kerusuhan di Timor-timur saat referendum. Dia dijatuhi hukuman 10 tahun. Namun dalam peninjauan kembali (PK), Mahkamah Agung memutuskan Guterress bebas.

Kolonel Tono sendiri tetap bertugas di TNI. Sempat menjadi Pangdam VI Tanjungpura di Kalimantan dan Asisten Operasi Kasad, dengan pangkat mayor jenderal.

4. TNI di belakang demo anti-UNAMET

Merdeka.com – Salah satu info penting yang disadap intelijen Australia adalah percakapan petinggi Badan Intelijen Strategi ABRI Brigjen Ariffudin. Terungkap TNI turut membantu demonstrasi massa pro-integrasi terhadap UNAMET.

TNI menyediakan material demonstrasi anti misi PBB di Timor-timur ini. Di antaranya bendera dan kaos.

“5.000 kaos sudah disiapkan dan 10.000 lainnya masih diproduksi.” Demikian informasi per tanggal 9 Agustus 1999.

Selain itu ada juga penyadapan percakapan antara Mayjen Zaky Anwar Makarim dengan perwira polisi terkait penghitungan suara referendum.

5. Tim Kiper-9 buru milisi prokemerdekaan

Merdeka.com – 20 September 2009, Australia menyadap percakapan antar para petinggi TNI. Mayjen Zaky Anwar Makarim, Letjen Yunus Yosfiah dan Letjen Hendropriyono mendiskusikan soal ‘pemindahan populasi’.

Diduga merupakan upaya antisipasi jika referendum tanggal 30 Agustus, dimenangkan massa pro-kemerdekaan.

Tanggal 21 Agustus, ada percakapan antara TNI dengan politikus pro-Indonesia Francisco Xavier Lopez da Cruz. Intinya Kopassus membentuk tim pemburu Kiper-9.

Misinya memburu tokoh-tokoh pro-kemerdekaan, atau orang-orang pro-Indonesia yang membelot pada lawan.

Selengkapnya: MERDEKA.COM

Kisah MengIndonesiakan Paksa Anak Timor Leste (1)

Kisah MengIndonesiakan  Paksa Anak Timor Leste (1)

Helene van Klinken. Portalkbr.com

TEMPO.COJakarta – Sepanjang periode 1975 hingga 1999, tatkala Timor Leste menjadi bagian dari Indonesia, ribuan anak Timor Leste dibawa ke Indonesia dengan kapal.  Mereka diangkat menjadi anak oleh keluarga-keluarga tentara. Ada yang dititipkan ke panti asuhan hingga pesantren.

Disertasi doktoral Helene van Klinken di University of Queensland, Australia, yang diterbitkan menjadi buku Making Them Indonesians, Child Transfer Out of East Timor pada 2012, mengungkapkan di Indonesia mereka “dipaksa” berasimilasi dengan Indonesia.   Tempo melakukan penelusuran terhadap anak-anak tersebut, yang kini telah dewasa dan menemukan kembali keluarga aslinya.  Berikut tulisan pertama dari enam tulisan yang disajikan disini.

Kisah anak-anak keturunan Aborigin yang diambil dengan paksa dari keluarganya membekas kuat di benak Helene van Klinken, 66 tahun, seorang peneliti sosial. Tatkala dia kecil, ibunya yang menjadi relawan di permukiman kaum Aborigin di Cherbourg, Queensland, Australian, sering menceritakan kisah ‘Stolen Generations’. ‘Stolen Generations’ adalah julukan bagi anak-anak Aborigin dan anak-anak orang Kepulauan Selat Torres yang banyak menghuni panti asuhan. Mereka dibawa oleh institusi pemerintah federal dan pemerintah pusat Australia, juga oleh misi gereja, pada periode 1909 hingga 1969.

Bayangan penderitaan anak-anak Aborigin itu muncul kembali ketika Helene bertugas di Timor Leste pada 2003. Kala itu ia menjadi relawan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi di Timor Leste (Comissão de Acolhimento, Verdade e Reconciliação de Timor Leste, CAVR).

Ia mendengar pengakuan langsung dari orang tua yang kehilangan anaknya. Helene juga mendapat laporan dari banyak saksi mata yang  melihat bagaimana anak-anak Timor Timur (sebutan Timor Leste saat masih menjadi bagian dari Indonesia) dimasukkan ke peti besar oleh tentara Indonesia lalu diangkut kapal yang akan pulang ke Indonesia.

“Peti itu diketuk-ketuk dari dalam,” kata Helene di ujung telepon saat dihubungi ke kediamannya di Leiden, Belanda. Mereka dimasukkan ke peti agar dianggap sebagai barang bawaan untuk menghindar pemeriksaan polisi militer karena tentara dilarang mengangkat anak (yatim piatu) tanpa ada surat yang ditandatangani oleh bupati. (Baca:Jejak Pelanggaran HAM Hambat Wiranto-Prabowo )

Sebenarnya, informasi mengenai pemindahan anak-anak Timor Timur yang masih di bawah umur ke Indonesia sudah didengar Helene tiga tahun sebelumnya saat ia bekerja di Yogyakarta. Ketika itu ia bertemu dan mewawancarai bekas tenaga bantuan operasional (TBO) bernama Antonio asal Manatuto yang diselundupkan oleh seorang kopral ke Ambon pada 1980. Namun pengaduan dari banyak orang tua saat ia berada di Timor Leste itulah yang menyadarkan Helene bahwa pada rentang waktu dari 1975 hingga 1999 pemindahan tersebut bersifat sistematis.

Dari situlah Helene kemudian menyusun temuannya untuk dijadikan disertasi doktoralnya di The School of History, Philosophy, Religion, and Classics University of Queensland di Brisbane, Australia. Helene meraih gelar doktor pada 2009.

Disertasi itu kemudian diterbitkan oleh Penerbit Universitas Monash menjadi buku setebal 212 halaman berjudul Making Them Indonesians, Child Transfer Out of East Timor, pada 2012. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia pada Januari lalu menerbitkan edisi bahasa Indonesia dengan judul Anak-anak Tim-Tim di Indonesia: Sebuah Cermin Masa Kelam.

Penelitian Helene tentang pemindahan anak-anak Timor Timur ke Indonesia ini menemukan adanya kesejajaran dengan pencerabutan anak-anak Aborigin dari keluarganya di Australia, praktek yang baru berhenti pada akhir dasawarsa 1960. Meski tidak identik, menurut Helene, ada kesamaan tujuan politik dan ideologi dalam upaya pemindahan itu. Di Timor Timur, pelaku pemindahan adalah perorangan, lembaga dan institusi negara seperti Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, dan institusi keagamaan.

“Gramedia langsung mau ketika saya tawari buku itu,” kata Helene mengenai buku setebal 354 halaman dan berukuran lebih kecil daripada edisi aslinya yang diluncurkan pada 12 Januari lalu itu di Jakarta.

Dian Yuliastuti | Purwani Diyah Prabandari (Jakarta) | Sri Pudyastuti Baumeister (Stuttgart) 

Sumber: TEMPO.CO 

Timor-Leste Sudah Menyusul Indonesia?

Timor-Leste Sudah Menyusul Indonesia?

Tingkat kesejahteraan rata-rata penduduk Timor-Leste berdasarkan gross domestic product (GDP) per kapita yang telah disesuaikan dengan purchasing power parity (PPP) dalam international US$ adalah sebesar US$1.709, sepertiga dari Indonesia yang besarnya US$4,956.[1] Namun, jika menggunakan indikator Gross National Income (GNI) per kapita berdasarkan PPP, Timor-Leste sejak tahun 2007 telah menyusul Indonesia. Data terakhir yang tersedia tahun 2012, GNI per kapita Timor-Leste sebesar US$6.230 sedangkan Indonesia sebesar US$4,730.[2]

gni

Ketika masih menjadi bagian dari Indonesia, Timor Timur tergolong provinsi dengan persentase penduduk miskin terbesar bersama Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Setelah berpisah dengan Indonesia, Timor Timur bisa melaju lebih kencang, sedangkan tetangga terdekatnya, Nusa Tenggara Timur, masih saja dengan status provinsi yang persentase penduduk miskinnya tertinggi setelah Papua dan Papua Barat. Sebagai negara yang relatif baru membangun dengan penduduk hanya 1,2 juta jiwa, Timor-Leste masih banyak menghadapi keterbatasan.

Namun, negeri ini bisa belajar banyak dari keberhasilan dan kegagalan negara lain, termasuk Indonesia, sehingga terbuka peluang untuk maju lebih cepat. Majalah Economist edisi terbaru mencantumkan Timor-Leste sebagai salah satu dari 10 negara yang diproyeksikan bakal mengalami pertumbuhan ekonomi paling cemerlang tahun 2014.[3]

Anggapan bahwa Timor-Leste bisa tumbuh tinggi karena relatif baru merdeka dan berawal dari tingkat yang rendah tidak cukup kuat. Di jajaran 10 besar ada Mongolia, Tanzania, Irak, Laos, dan Macau. Jika alasannya karena perekonomian Timor-Leste relatif sangat kecil, buktinya banyak perekonomian yang ukurannya kecil mengalami perkembangan tersendat-sendat. Bermuda dan Puerto Rico, misalnya, masuk dalam kelompok 10 besar yang pertumbuhannya tahun 2014 diproyeksikan paling buruk. Sebaliknya, negara sangat besar bisa juga tumbuh tinggi seperti China.

gdp_forecasts

Pertumbuhan ekonomi Timor-Leste pada mulanya berfluktuasi tajam karena ketergantungan perekonomiannya terhadap minyak dan kopi. Laju inflasi cukup tinggi, hampir selalu dua digit. Penyebab utamanya adalah persoalan supply bottlenecks. Walau demikian, sejak 2007 pertumbuhan ekonomi tidak lagi berfluktuasi tajam, bahkan hampir selalu di atas 10 persen dan diperkirakan berlanjut hingga tahun 2015.

growth

Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya setelah pemilihan umum yang lalu, sejumlah inisiatif telah digulirkan untuk memperkokoh landasan bagi pertumbuhan berkelanjutan, seperti pelayanan satu atap dalam  perizinan usaha, penyiapan undang-undang pertanahan, menghapuskan monopoli di jasa telekomunikasi dengan kehadiran dua pelaku baru, pembenahan bandara, dan konsultasi publik tentang undang-undang pertambangan. Jika Timor-Leste diuntungkan oleh keputusan arbitrase atas the maritime treaty yang mengatur the greater sunrise gas and condensate field, masa depan penerimaan negara dari sektor migas bakal lebih pasti. Jika di Indonesia kekayaan minyak sudah menjelma menjadi semacam “kutukan”, bagi Timor-Leste sangat berpotensi sebagai “berkah”.

The Petroleum Fund, yang merupakan sovereign wealth funds negara, sudah mencapai 14 miliar dollar AS pada Juli 2013, naik dari 11,8 miliar dollar AS pada akhir 2012. The Petroleum Fund relatif cepat mengakumulasi karena hanya sebagian kecil penerimaan Negara dari minyak yang dialirkan ke anggaran Negara bagi kebutuhan generasi sekarang. Sebagian besar sisanya dikelola untuk kepentingan generasi yang akan datang demi menegakkan keadilan antargenerasi.

Untuk kasus Indonesia, seluruh penerimaan minyak (bagi hasil minyak dan pajak keuntungan perusahaan minyak) yang pada tahun 2012 sebesar Rp 177 triliun habis dibelanjakan, bahkan masih kurang untuk menutup subsidi BBM sebesar Rp 240 triliun. Hal lain yang patut dikagumi dari Timor-Leste adalah kesungguhan pemerintah melindungi rakyatnya dari goncangan eksternal dan internal. Social protection index versi Asian Development Bank Timor-Leste menunjukkan Timor–Leste berada di urutan ke-11, jauh di atas Indonesia yang tercecer di urutan ke-27 dari 35 negara di Asia. Pemerintah Timor-Leste tak menunggu kaya untuk melindungi rakyatnya dari goncangan gelombang globalisasi yang juga merasuki negeri tetangga terdekat kita.

spi

Kita sepatutnya cepat sadar akan kesalahan di masa lalu, mau mengubah pola pikir yang mengedepankan kepentingan rakyat banyak dan menegakkan keadilan.

Informasi tambahan Timor-Leste (Indonesia):

Jumlah penduduk 1,2 juta jiwa (246,9 juta jiwa)

Pertumbuhan penduduk 2,9 persen (1,2 persen)

Luas daratan 14.870 km2 (1.904.570 km2)

GDP (PPP, international $) $2,1 miliar ($1,2 triliun)

GDP per kapita (PPP, international $) $1.709 ($4.956)


[1] World Bank, “East Asia and Pacific Economic Update: Rebuilding Policy Buffers, Reinvigorating Growth,” October 2013, hal. 89-92 dan 127-129.
[2] Data diambil dari World Bank, World Development Indicators.
[3] GDP forecasts, The Economist, Vol. 410, No. 8868, January 4th 2014, hal. 69.
Sumber:

Eu Volto, Hau Fila Fali Mai, I Am Back, Saya Kembali Lagi

Have A Good Day Semuanya,
Setelah vakum selama beberapa tahun, saya akhirnya kembali menulis. Seperti manusia biasa di Asia lainya, setelah hidup berkeluarga,
banyak kewajiban yang mesti dijalankan untuk menghidupi keluarga dan anak – anak di Dili.

Menjadi seorang Engineer memang mesti peras otak untuk bekerja di lapangan di Timor-Leste akibatnya jarang nulis lagi.
Tekad bulat untuk bekerja keras dalam membangun negeri telah ada ketika negara ini berdiri, sebagai generasi muda sama seperti teman – teman lain di Timor-Leste sudah menjadi keharusan untuk bekerja membangun negeri Tercinta Timor-Leste ini.

Suasana Kota Dili yang sangat kondusif, mungkin lebih aman kalau dibandingkan dengan beberapa negara anggota ASEAN lainya seperti Filipina atau Thailand dimana kelompok separatis
masih menusuk dari dalam.

Dili di tahun 2014, banyak yang telah berubah.
Inflasi yang tinggi karena peredaran mata uang Dollar US yang sangat banyak. Banco Central de Timor-Leste (Bank Sentral TL) yang baru saja me-launching mata uang Timor-Leste dalam bentuk koin (100 centavos).
Strategi Politik telah banyak dicapai, kepulangan pasukan Perdamaian PBB di tahun 2012 dengan damai, Pemilu 2012 di TL yang di pimpin sendiri oleh STAE (KPUnya TL) yang berjalan kondusif (Polisi dan Tentara juga ikut memberikan suara), menjadi negara terbaik di Asia dalam hal transparansi dana sumber daya alam, Senhor Ramos Horta yang menjadi pemimpin untuk Misi PBB di Guinea Bissau (negara di Afrika, anggota CPLP) beserta Komitmen Negara RDTL dalam menyelesaikan konflik di Guinea Bissau (Timor Leste memberikan bantuan kepada negara ini senilai 20juta dollar AS (Rp. 24 Miliar), menjadi model bagi negara-negara yang tergabung dalam G7, Pengusaha keturunan Timor – China (Jape Kong Su) yang serius membangun perekonomian Timor-Leste,
Fundus Petroleum (Dana Perminyakan) Timor Leste di Bank Amerika dari hasil bagi eksplorasi MInyak dan Gas ALam di Laut Timor yang telah mencapai 14 billions USD (Setara 168 Triliun Rupiah) pada tahun 2014, pemasukan non migas yang terus bertambah serta penyusunan strategi pengembangan yang berorientasi pada pemutusan ketergantungan negara pada pendapatan dari minyak dan gas. pemetaan SDA di onshore Timor-Leste, pembentukan BUMN Timor-Leste yaitu Timor Gap (seperti Pertaminanya Indonesia), pembentukan perusahaan penerbangan AIR TIMOR, Liberalisasi Telekomunikasi (dari 1 operator telekomunikasi di tahun 2000 – 2011, menjadi 3 operator telekomunikasi di tahun 2014), Mega Proyek Pembangkit Listrik senilai 400Juta USD, Peningkatan Human Development Index TL menurut data bank DUnia di tahun 2013 serta segudang pencapaian lainya.

Foto:

1. http://www.scmp.com/magazines/post-magazine/article/1361018/project-timor

2. Anak-Anak TL

3. Kreativitas Anak TL

4. Timor Plaza

5. New Building Ministry of Finance of Timor Leste

Sebagai seorang warga negara yang baik, terkadang pada waktu luang, saya memberikan kursus bahasa Inggris, komputer dan internet yang free untuk anak – anak Timor Leste. Saya sendiri giat mengikuti kursus bahasa Portugis. Maklum tahun ini, Timor Leste akan menjadi Ketua selama dua tahun bagi negara Lusophone (negara2 berbahasa Portugis).
Agenda pertama Timor-Leste adalah, mengubah peran dari CPLP (Communidades dos Paises de LIngua Portugues/ Persatuan Negara2 Berbahasa Portugis) dari mindset yang bersifat kultural ke Pemberdayaan Ekonomi. Dengan belajar lebih mendalam bahasa Portugis (bahasa ofisial Timor Leste) mudah2an dapat berkomunikasi dengan baik dengan mereka.

Memasuki Awal tahun 2014, Timor Leste membawa tetangganya Australia ke pengadilan Internasional di Den Hag Belanda. Di pengadilan ini juga pada waktu itu, Indonesia di kalahkan oleh Malaysia atas sengketa pulau Sipadan dan Ligitan yang kaya SDAnya.
TImor Leste menuntut Australia dalam dua hal:

  1. Atas Penyitaan Dokumen Negara Timor-Leste di Kantor Pengacara Bernard Collaery di Canbera oleh Intelijen Australia satu hari menjelang sidang perdana kasus PENYADAPAN yang melibatkan Intelijen Aussie di pengadilan International di Den Hag.
  2. Atas Aksi ESPIONASE yang dilakukan oleh Intelijen Australia di Ruang Kabinet Perdana Menteri Timor-Leste pada tahun 2004.

Saya akan memaparkan lebih lanjut perkembangan – perkembangan ini dan yang lainnya.
Blog dengan bahasa Indonesia ini, saya persembahkan untuk para pembaca yang memahami bahasa Indonesia. Saya juga akan KOPAS beberapa artikel tentang Timor Leste yang bukan bahasa Indonesia, maklum di Timor Leste ada empat bahasa yang dipakai yaitu Bahasa TETUM, PORTUGIS, INGGRIS dan Bahasa Indonesia.
Saya sendiri baru menguasai empat bahasa plus satu bahasa daerah, jadi lima dong (jadi gr..gr..gr)

Salam,

God Bless Timor-Leste.

Maubere