‘Kalau Ada Waktu, Pulanglah ke Rumah’: Keluarga Timor Leste yang Terpisah

Indonesia menjajah Timor Leste selama 24 tahun.

Selama itu, sekitar empat ribuan anak-anak Timor dibawa keluar dari negeri itu oleh orang-orang Indonesia – dengan atau tanpa izin dari orangtua.

Setelah Timor Leste merdeka, sejumlah keluarga yang terpisah itu bisa kembali bertemu; tapi masih ada yang terus mencari.

Citra Prastuti bertemu keluarga yang masih mencari itu.

Berbicara lewat telfon dari desanya yang terletak sekitar 100 kilometer dari Dili, Miguel Amaral mengingat hari ketika anaknya Cipriano yang berusia 6 tahun dibawa pergi.

“Saat itu tahun 1977. Orang Indonesia datang dengan helikopter tentara. Saya dan istri sedang tidak ada di rumah ketika anak kami diambil. Tidak ada pemberitahuan kepada kami. Kami hanya melihat helikopter terbang jauh dengan anak kami di dalamnya. Kami tak dapat pemberitahuan apa pun.”

Sebelumnya seorang anggota DPR yang mewakili Timor Timur datang ke desa mereka, menjanjikan pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin. Tapi anggota DPR itu tak pernah mengatakan, kapan akan membawa anaknya.

Paman Rafael Urbano saat itu masih berusia 6 tahun, dia juga dibawa pergi bersama Cipriano.

Sebagai anak kecil, mereka sangat senang bisa terbang di helikopter untuk pertama kalinya.

“Rasanya kayak naik truk… bingung, kok bisa naik ke atas? Kita orang susah kok bisa naik ke atas? Mungkin ini karena Tuhan, cinta kasihnya kepada kami. Ekonomi kami kan susah, tapi kami diberikan kesempatan. Orang lain belum tentu dapat kesempatan itu, tapi kami dapat, begitu juga Cipriano.”

Cipriano, Urbano dan sejumlah anak lainnya dari desa ini ditempatkan di panti asuhan Seroja yang dijalankan oleh tentara Indonesia.

Satu tahun kemudian, Cipriano dibawa pergi lagi.

“Setelah tahun 1978, ada kunjungan dari istri tentara. Saudara saya itu kan rada putih, lucu, lalu dipilihlah Cipriano dan satu anak perempuan. Bulannya saya tidak tahu. Cipriano dibawa, sampai sekarang belum pulang.”

Setelah itu, Urbano dan 20-an anak Timor lainnya dibawa untuk tinggal di panti asuhan di Indonesia dan mendapatkan pendidikan gratis sampai SMA di Bandung.

Urbano diberi kesempatan untuk pulang ke Timor Leste, tapi ia memilih untuk bertahan demi pendidikan yang lebih tinggi.

Setelah lulus pada 2008, dia kembali ke Timor Leste yang saat itu sudah menjadi negara merdeka.

Dia kembali ke desanya dan bertemu orangtua Cipriano, yang terus bertanya: kenapa kamu pulang dan anak kami belum pulang?

Kata Miguel, dia tak tahu ke mana harus mulai mencari anaknya.

Diperkirakan ada ratusan keluarga seperti Miguel yang masih mencari anak-anak mereka.

Setelah merdeka dari Indonesia pada 1999, Timor Leste membentuk komisi pencari fakta CAVR untuk menyelidiki apa yang terjadi kepada orang-orang Timor selama penjajahan Indonesia.

Sebagian kecil isi laporan CAVR yang diterbitkan tujuh tahun lalu menyebutkan kalau ada anak-anak yang dibawa keluar dari negeri itu.

Tapi Ketua CAVR sekarang Agustinho de Vasconcelos mengatakan, tak banyak yang bisa dilakukan komisi untuk mencoba mencari anak-anak itu sekarang.

“Bagi kami informasi terbuka, kalau ada kasus seperti ini…paling kurang kami bisa menampung dan menampung. Kemudian kami bisa menunggu proses selanjutnya seperti apa. Karena boleh dikatakan kasusnya terlalu banyak.”

Diperkirakan ada empat ribuan anak-anak Timor Leste yang dibawa keluar dari negara itu selama masa penjajahan Indonesia yang berlangsung selama 24 tahun.

Vitor da Costa, salah satu dari mereka, sekarang adalah Ketua IKOHI, Ikatan Orang Hilang, Jakarta.

Orangtuanya meninggal ketika ia masih kecil, dan dia diadopsi oleh keluarga Indonesia yang membesarkannya di Jakarta.

“Dia bilang waktu dia bilang di Bagia, ada anak kecil datang. Dia lagi sakit, saya yang pijiti. Perutnya besar…saya waktu itu saya sakit busung lapar. Di sini sempat dirawat di RS Cijantung. Pertama kali tertentu, di kota Bagia, saya minta makan. Sejak itu dia suruh asistennya untuk ketemu keluarga untuk beritahu kalau saya mau dibawa.”

Keluarganya setuju, karena mereka terlalu miskin untuk mengurus Vitor.

Ayah angkat Vitor selalu menjelaskan kalau Vitor adalah anak Timor. Tapi baru di usia ke-34, Vitor kembali ke kampung halamannya.

“Tapi itu baru dalam hati, karena nggak tau gimana caranya, nggak punya uang. Keinginan-keinginan itu terus mundur. Akhirnya tercapai di tahun 2004. Saya merasa sudah dewasa, saya harus cari tahu keluarga saya.”

Dia mengambil cuti sebulan dari pekerjaan dan pergi ke Timor Leste untuk mencari keluarganya.

“Begitu sampai, saya senang bisa injak kaki pertama kaki. Bingung, karena nggak tau harus ke mana, ketemu siapa. Kalau mau mencari keluarga, tanya siapa. Satu-satunya yang saya andalkan adalah teman-teman Yayasan Hak, yang saya kenal waktu jaman aktivis, saya beberapa kali ketemu. Itu andalan saya.”

Dengan bantuan mereka lah, dia akhirnya bertemu keluarganya.

Tapi dia tak bisa segera kembali ke kampungnya.

“Karena kamu sudah dianggap hilang, mati. Kamu sudah punya kuburan kecil di dalam rumah adat, sama bapak dan ibu kamu, kamu di tengah-tengahnya. Itu harus dicabut, kalau enggak, bahaya. (Gimana rasanya?) Rasa sedih dan marah. Marahnya kenapa saya dibikin kuburan, saya ini masih hidup. Kenapa kalian nggak mencari? Saya bertanya pada diri saya. Itu membuat diri saya agak marah sama keluarga karena mereka nggak cari. Alasan mereka susah, kondisi sulit, nggak tahu gimana cara mencarinya. Sempat muncul omongan seperti itu. Jadi dimaklumi saja kondisi yang memisahkan itu.”

Enam tahun kemudian, setelah menabung cukup uang untuk kebutuhan upacara tradisional, Vitor kembali ke Timor Leste dan berkumpul kembali dengan keluarganya.

“Dalam seumur hidup saya, itu yang paling bahagia saya dapatkan sampai saat ini. Mungkin anak-anak seperti saya itu sama. Kebahagiaan itu yang…bersyukur saya. Walaupun tidak ketemu orangtua kandung, tapi saya bersyukur bisa kembali dan bertemu saudara-saudara. Mengenal tempat lahir. Itu yang membuat saya bahagia sampai saat ini.”

Vitor memperlihatkan foto-foto dia dan keluarganya di Timor Leste.

Dia sangat bangga karena dia bisa memanggil mereka ‘keluarga’, meski ia masih kesulitan mengingat nama-nama mereka.

Dia sekarang tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di Jakarta, bersama tante dan keponakannya dari Timor yang sedang belajar di Jakarta.

Dan dia bertekad akan membantu menyatukan keluarga-keluarga Timor yang terpisahkan.

“Penting bagi kami untuk tahu keluarga dan menelusuri keluarga kami. Walaupun soal pilihan akan tinggal di Inodnesia atau kembali ke Timor Leste, itu kembali ke orangnya. Tapi negara wajib memfasilitasi, dari kedua belah pihak, baik Timor Leste maupun Indonesia untuk anak-anak seperti ini.”

Kembali ke Timor Leste, Urbano dan Miguel masih yakin kalau Cipriano yang hilang masih hidup… di mana pun dia berada…
“Pesan saya untuk Cipriano…Kita berdua pernah di PA Seroja, bersama saudara dan teman-teman kita banyak di Dili. Saya termasuk Om kamu. Bapak kamu masih hidup, ibu kamu masih hidup. Kamu punya saudara banyak sekali. Yang pasti kami menunggu kamu. Kami bingung. Kamu ada di mana saja, yang penting kamu ada alamat pasti, kami akan cari. Bapak ibu kamu, kalau diucapkan nama Cipriano, air mata mengalir. Kamu harus bersyukur Cipriano, kamu masih punya Ibu Bapak.”

“Kami sangat senang sekali kalau siaran ini bisa disiarkan di Jakarta, sehiingga Cipriano bisa tahu kalau bapak ibunya masih hidup di Timor Leste dan merindukan dia. Kalau ada waktu, pulanglah ke Timor Leste.”

Sumber: http://www.asiacalling.org/in/berita/timor-leste/2440-if-you-have-time-please-come-home-the-divided-families-of-timor-leste

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s