Perjalanan panjang menuju rumah… Anak-anak Timor Leste yang hilang

Perjalanan panjang menuju rumah… Anak-anak Timor Leste yang hilang

Setelah berusia 18 tahun, Alexhia Cordova da Silva baru tahu kalau dia sebetulnya orang Timor, bukan orang Indonesia.

Alexhia adalah satu dari hampir empat ribuan anak-anak Timor Leste yang dibawa keluarga Indonesia selama masa pendudukan di Timor Timur.

Mereka dibawa tentara, yayasan dari Indonesia atau keluarga sipil.

Di kebanyakan kejadian, keluarga angkat berjanji kepada orangtua kandung kalau mereka akan memberikan pendidikan kepada anak-anak Timor Leste yang mereka bawa. Setelahnya, mereka akan dipulangkan kembali ke keluarga.

Tapi itu tak selalu terjadi.

Citra Prastuti mengurai kembali kisah Alexhia yang dimulai pada 1992 di Lospalos, di ujung timur Timor Leste.

Kristina Sity baru berusia 10 tahun ketika adik perempuannya yang masih bayi dibawa pergi.

Dia masih ingat persis kejadiaan hari itu.

“Waktu itu 92, tapi bulan dan tanggal tidak ingat persis. Saya berusia 10 tahun jadi saya kurang tau. Yang saya tau, pagi-pagi saya angkat air, mama dan papa ada di dalam, mobil pergi, kami pergi ke tempat nenek. Mobil berhenti di jalan, saya tanya, adiknya mau dibawa ke mana kok orang Indonesia yang gendong. Mama bilang, orang Indonesia mau angkat jadi anaknya.”

Ibu mereka, Sabina Ximenes, tak dapat peringatan apapun soal kejadian ini.

Pagi itu, ia kedatangan tamu sepasang suami-istri asal Indonesia, yang datang ditemani tentara.

Dia terkejut ketika mereka mengambil anak kesembilannya.

“Mereka hanya datang dan berkata mereka mau ambil anak perempuan saya. Saya tak mau serahkan anak saya. Jadi mereka pergi meninggalkan rumah, tapi kemudian mereka datang lagi ketika anak saya berusia 40 hari. Orang-orang Indonesia itu mengatakan kalau mereka akan memelihara anak saya. Mereka kasih dia susu. Dan kami dibawa ke kantor komando militer, kami menginap di sana. Suami saya meminta saya berhenti menangis, karena kami ada di tempat militer. Kalau mereka marah, mereka bisa bunuh kami, apa yang bisa kami lakukan?”

Sabina adalah pendukung kelompok pembebasan Timor Timur dari Indonesia, Fretilin.

Kakak-kakak laki-laki Sabina adalah pemimpin senior dari tentara kelompok tersebut, yang berperang melawan pendudukan tentara Indonesia.

Sabina mengaku tak punya pilihan selain menyerahkan bayi perempuannya.

“Ya saya marah sama mereka, itu biasa. Gara-gara mereka, saya menderita seperti ini. Saya berkorban banyak hal untuk mereka. Tapi ini situasi politik saat itu… saya harus melindungi kakak saya.”

“Dalam hati kecil, aku tidak ikhlas anak dipelihara sama mereka. Pak Warso bilang, sekalipun kami yang pelihara, dia tetap anak kamu. Aku tetap tidak mau. Tapi karena mereka bilang mereka sudah bilang sama Babinsa, alasannya selalu begitu. Di jaman kami dulu, kalau dengar kata Babinsa atau liat yang berpakaian militer, nggak ada yang bisa dilawan, kalau Anda masih hidup seperti saat itu.”

Sabina dipaksa menandatangani sebuah surat.

Dia tak bisa membaca dan tak tahu apa yang dia tandatangani.

Tapi dia menyimpan dokumen itu selama 18 tahun. Juga sebuah foto lama bergambar Sabina menggendong Alexhia yang baru lahir.

Dokumen ini menyebutkan kalau Sabina telah menyerahkan anak perempuannya tanpa paksaan.

Sejak itu Sabina tersiksa.

“Orang-orang kalau kasih netek anak saya ingat lagi anak saya. Anak saya masih hidup tapi seperti sudah mati… Susunya sakit, saya kasih siapa… Saya nangis terus. Bapaknya bilang, jangan nangis terus, anak kita baik-baik saja di sana. Dia juga nangis. Kamu nangis nanti anaknya sakit juga. Tapi saya tidak bisa tahan, saya nangis terus,” kata Sabina sambil menyeka air matanya.

“Kami punya adik laki-laki satu, kalau dia tanya gimana saya punya saudara perempuan yang diangkat sama orang Indonesia? Mama sampai sedih. Pernah Mama sampai pingsan karena ingat Alexhia. Dia bilang kalau kalian ingin supaya saya tetap hidup tolong jangan sebut namanya, kalau tidak saya ingat lagi, kalau tidak saya akan ingat terus,” kat Siti.

Alexhia menghabiskan 18 tahun hidupnya bersama keluarga angkatnya di Dili, lantas pindah ke Jawa Timur, Indonesia.

Dia tak pernah diberitahu apa pun soal keluarga kandungnya di Timor Leste.

Keluarga di sana pun tak pernah mendengar soal Alexhia.

Ketika bapak angkat Alexhia sekarat di rumah sakit, barulah Alexhia tahu bahwa dia anak angkat.

“Mama kamu orang Lospalos.” Lospalos? Halo? Di Google nggak ada Lospalos. Menyedihkan. Itu sebenarnya tempatnya di mana, di Mars? Atau di Karibia? Atau di mana? Saya nggak tau. I have no idea.”

Sekarang Alexhia adalah mahasiswa fakultas hukum di salah satu universitas swasta di pinggiran Jakarta.

“Mungkin ada sisi baiknya juga kalau di Timor mau jadi apa… (laughing), kalau di Indonesia pasti jadi, apalagi dengan keluarga yang berkecukupan seperti Bapak Soerjo Winarno dan Ibu Atikah. Ya udah, saya diambil, diangkat anak, saat itu saya bisa lihat akte kelahiran saya yang palsu… (Nama yang tertera di situ?) Aprilia. Itu nama yang tertera di situ dan diberikan oleh mereka.

Begitu dia mengetahui kebenaran tentang dirinya, dia mulai mencari keluarga kandungnya…

“First time aku mencari orangtua aku, aku berpikir.. oh my God, that was abstract, aku nggak pernah ketemu orangtua, aku nggak pernah berharap ketemu dengan mereka juga. Aku nggak yakin mereka masih ada. Dan di sana terjadi perang dan… actually kebanyakan orang berpikir bahwa.. Alexhia, orangtua kamu itu miskin, pasti udah mati di sana katanya gitu. (Siapa yang bilang gitu?) Ibu tiri saya… nggak bisa dibilang ibu tiri.. ibu angkat saya. Tapi saya percaya di sini ada sebuah politik, ibu saya mengatakan itu supaya saya nggak kembali ke orangtua kandung.”

“Saya berpikir, apa pun ibu saya, bahkan pelacur sekalipun, saya akan tetap datang! Gimana pun caranya, ditembak sekalipun. Kalau masuk berita kan bagus ‘oh itu anak saya’. Yang saya tahu, saya harus pulang.”

Sebersit harapan muncul lewat jejaring sosial Facebook.

Harapan itu lantas membawanya kepada Perdana Menteri Timor Leste yang sudah merdeka, Xanana Gusmao.

“Nggak ada panggilan-panggilan, tiba-tiba ditelfon: Alexhia kamu harus datang sekarang juga karena ada Bapak Xanana Gusmao ke sini pingin bertemu kamu… Saya tau Xanana Gusmao! (laughing) “

Sepanjang perang Timor Leste memperjuangkan kemerdekaan, paman Alexhia adalah pemimpin pengamanan Xanana Gusmao.

Tahun lalu, Alexhia akhirnya kembali ke Timor Leste.

Dia menghabiskan sepekan bersama keluarganya di sebuah desa kecil, yang dikelilingi hutan lebat di ujung timur negeri itu.

“Aku mirip kok sama mamaku. Udah kayak ngeliat di kaca. Itu adalah kunci utama saya bisa kembali ke Timor karena muka saya sangat mirip sama mama saya. Aneh, satu keluarga saya nggak ada yang mirip sama mama. Cuma saya, dan saya yang dikasih ke orang. Mungkin kalau aku bilang, ini biar aku bisa kembali ke keluarga.”

Ibu Alexhia selalu yakin kalau anaknya masih hidup dan bakal menemukan jalan pulang.

“Kenapa aku yakin, karena dia adalah darah daging saya. Kalau dia meninggal pasti aku akan merasakan sesuatu hal yang berbeda. Tapi karena tidak ada tanda-tanda anak saya mati, saya yakin dia hidup. Karena Tuhan juga tahu saat saya berikan anak itu saya tidak bermaksud untuk menjual dia ke orang lain. Jika saat itu saya bermaksud menjual anak itu, Tuhan pasti akan kasih hukuman. Dan mungkin kami tidak akan ketemu lagi karena itu konsekuensi tindakan saya. Karena saya tidak jual, itu yang membuat saya yakin anak saya masih hidup dan akan balik kepada saya.”

“Pertama kali saya bertemu dia, yang saya rasakan adalah kebahagiaan. Tapi Alexhia sempat marah pada saya, benci dan sebagainya. Saya hanya diam. Dia marah, kenapa saya dulu jual dia kepada orang Indonesia. Saya jelaskan kalau saya tidak jual dia. Saya minta dia menghubungi ibu angkatnya, sehingga saya bisa bilang ke dia kalau saya tidak pernah jual anak saya.”

Sabina bilang kepada anak perempuannya untuk menghilangkan amarah dan rasa benci dalam hati.

“Semula saya benci sama orangtua angkatnya. Tapi orang itu yang bawa anak saya, jadi mereka harus disayang seperti keluarga, supaya anak saya sehat. Kalau saya benci mereka, anak saya bisa-bisa jatuh sakit. Manusia harus bisa sabar. Selama anak saya sehat, Tuhan pasti tolong.”

Alexhia sekarang tinggal di Jakarta, menyelesaikan kuliahnya.

Dia terus menjaga hubungan dengan keluarga kandungnya di Timor Leste.

“Ketika saya datang ke Timor Leste, saya datang akan nggak cuma untuk ibu saya. Adik-adik saya masih kecil. I want the best future for them.”

“Kalau saya kembali ke Timor Leste, saya akan belajar mencintai Timor Leste. Karena saya baru ketemu Timor Leste. Ibarat pacar lah, kita kan belajar untuk mencintai dia. Semuanya membutuhkan proses, saya pasti akan kembali ke Timor Leste.”

Kalau Anda adalah anak Timor Leste yang dibawa ke Indonesia dan ingin bertemu kembali dengan keluarga atau orangtua, Anda bisa mengirim email kepada kami. Atau kunjungi website http://www.istoriaku.org. Ini adalah situs baru yang mencoba memberikan pemahaman soal anak-anak Timor Leste yang dipindahkan ke Indonesia; juga mencoba mempertemukan anak dan orangtua yang terpisah.

Sumber: http://www.asiacalling.org/in/berita/timor-leste/2402-a-long-journey-home-timor-lost-children

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s