40 Tahun Peperangan Demi Minyak dan Gas Timor – Bagian I

Photo: Menlu Timor-Leste Jose Ramos Horta dan Menlu Australia Alexander Downer menandatangani perjanjian CMATS untuk pembagian hasil minyak dan gas di Laut Timor di Sydney 2006 Photo: Renee Now ytarger Sumber: The Australian

Photo: Menlu Timor-Leste Jose Ramos Horta dan Menlu Australia Alexander Downer menandatangani perjanjian CMATS untuk pembagian hasil minyak dan gas di Laut Timor di Sydney 2006
Photo: Renee Now ytarger Sumber: The Australian

40 Tahun Peperangan Demi Minyak dan Gas Timor

Konspirasi Untuk Mengeksplorasi Minyak dan Gas Timor Portugis (Timor-Leste)

The Australian (Bagian I)

Minyak dan kegiatan mata-mata telah berjalan selama 4 dekade lalu dalam perebutan sumber kekayaan minyak di Laut Timor, jadi
pengungkapan atau penemuan-penemuan terakhir mejadi tidak asing, atau paling tidak bagi Pemerintahan Timor-Leste.

Meskipun adanya protes-protes dari pemimpin – pemimping Timor-Leste setelah mempelajari bahwa Australia telah memasang perangkat mata – mata di Kantor Perdana Menteri Timor-Leste, Timor-Leste telah memahai secara menyeluruh bahwa,
Timor-Leste telah disadap pada saat negosiasi minyak dengan Australia yang dimulai tahun 2000 dan berakhir dengan ditanda tangganinya perjanjian maritim yang dinamakan Certain Maritime
Arrangements in the Timor Sea (CMATS) di tahun 2006.

Mantan Duta Besar Amerika Serikat, Peter Galbraith adalah satu dari sekian penasehat yang dikontrak Pemerintah Timor-Leste, tiba di Dili untuk membantu Pemerintah Timor-Leste dalam hal negosiasi, yang dimulai ketika ibu kota Dili-Timor-Leste baru saja dibumi hanguskan sepeninggal Indonesia yaitu pada tahun 2000.

Sebagai anak dari seorang pakar ekonomi yaitu John Kenneth Galbraith, Peter telah tumbuh dewasa di masa President US, Kennedy di tahun 1950an.
Ia juga memiliki pemahaman yang luas tentang cara-cara penyadapan dan kegiatan mata-mata yang dilakukan oleh Pemerintah-Pemerintah Barat. Ia juga telah menasehati pemimpin – pemimpin Timor-Leste bahwa,
komunikasi mereka mungkin sedang atau telah diinterupsi.

Peter Galbraight

Peter Galbraight

Oleh sebab itu, ia menasehati agar dokumen-dokumen pemerintah di beri password. Salah satu password yang digunaka antara lain ROMIT, yaitu kebalikan dari kata TIMOR. Maka dari itu juga, Perdana Menteri Timor-Leste pertama, Mari Alkatiri (SekJen FRETILIN) sering mengeraskan volume televisi di ruang rapatnya
ketika sedang mendiskusikan hal-hal yang sensitif.

Minyak di Laut Timor yang berada di median line antara Timor-Leste dan Australia menambah daya tarik yang sangat tinggi bagi para diplomat Australia di era 1960an, ketika Pemerintah yang berkuasa di Timor Portugis yaitu PORTUGAL memberikan konsensi terbesar bagi perusahaan pengebor minyak asal Amerika Serikat, yaitu Oceanic Exploration.

Kemudian, perusahaan minyak Australia Woodside menemukan sebuah ladang minyak lain di Laut Timor, yang mengandung sangat banyak gas dan minyak pada tahun 1974. Hal ini membuktikan bahwa wilayah ini masih memiliki banyak potensi minyak dan gas yang lain.

Ladang minyak dan gas yang bernama GREATER SUNRISE di laut Timor, yang mana menjadi SEBAB dalam negosiasi yang memunculkan dugaan keras penyadapan ini, oleh para ahli Geologi dikategorikan sebagai sumber “KELAS DUNIA” yang mana dibutuhkan milyaran dollar untuk mengembangkanya,
meskipun ladang minyak ini mengandung lima triliun feet gas menjadikanya sepertiga dari ladang minyak terbesar lainnya yang baru saja ditemukan oleh perusahaan minyak Australia, Woodside yaitu ladang minyak BROWSE.

Meskipun demikian, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Richard Woolcott, pada bulan Agustus 1975 menulis bahwa Australia secara potensial akan mendapatkan persetujuan atau deal yang lebih bagus lagi di Laut Timor dengan Indonesia, bila Indonesia yang mengontrol daerah Timor Portugis, dari pada membuat persetujuan dengan Timor Portugis bila
telah menjadi sebuah negara independen atau dengan Portugal sebagai penguasa kolonial. Ia menulis ” Ini bisa saja sangat siap dinegosiasikan dengan Indonesia dengan menutup jarak yang ada daripada dengan Portugal atau sebuah negara independen Timor Portugis”.

(MENURUT SAYA, AUSTRALIA TELAH MENGETAHUI BAHWA INDONESIA AKAN MENYERANG DAN MENDUDUKI TIMOR-TIMUR)

Woolcott secara tidak langsung telah merujuk kepada kenyataan bahwa Australia telah mengamankan posisinya atas persetujuan batas laut dengan Indonesia pada tahun 1972, dimana dalam perjanjian tersebut Australia telah meluaskan teritorialnya dua atau tiga kali lebih dekat ke Pulau TIMOR (NTT dan Timor-Leste), daripada
mengikuti klaim Portugal untuk menggunakan Median Line. Dalam perjanjian ini, Indonesia telah di kadalin Australia.

(TIMOR LESTE AKAN MENUNTUT KEMBALI UNTUK MENGGUNAKAN MEDIAN LINE, KARENA SESUAI DENGAN PERATURAN PBB TENTANG BATAS MARITIM INTERNASIONAL)

Australia mendesak dengan kuat bahwa perbatasan laut haruslah digeser lebih dekat ke pulau Timor karen hal ini merefleksi kepad batas akhir Kontinental Shelfnya Australia, argumen Australia ini kemudian
oleh para ahli geologi dan ahli-ahli hukum laut dianggap sebagai sebuah kesalahaan besar.

Negosiasi yang ditandatangani antara Australia dan Indonesia pada tahun 1972 seharusnya melibatkan tiga negara, akan tetapi karea Portugal pada waktu itu posisinya hanya sebagai Penguasa Kolonial maka di biarkan saja, perjanjian ini meninggalkan sebuah celah beseberangan dengan Timor,
yang mana hari ini dikenal dengan nama Celah Timor (Timor Gap).

Ketika Indonesia telah menyerang dan menduduki Timor-Timur empat bulan setelah Duta Besar Australia untuk Indonesia Woolcott menulis surat kabel ke Australia, para diplomat Australia telah berharap bahwa mereka sekarang bisa lebih dekat ke Celah Timor dan telah mengamankan keuntungan atau kekayaan minyak yang sangat besar di laut Timor.

Indonesia pada akhirnya menyadari bahwa mereka telah melakukan sebuah kesalahaan besar karena telah menandatangani persetujuan atau perjanjian batas laut berdasarkan huku Kontinental Shelf yang diajuakan secara licik oleh Australia. Hukum International telah gelumang saat perjanjian ini ditandatangani pada tahun 1972, akan tetapi pada akkhir era 1970an, Indonesia sadar bahwa ia memiliki legitimasi untuk mengklaim kembali batas maritimnya dengan menggunakan Median Line.

Penandatanganan Perjanjian Timor Gap Antara Menlu Indonesia dan Menlu Aussie

Penandatanganan Perjanjian Timor Gap Antara Menlu Indonesia dan Menlu Aussie

Hasil dari negosiasi antara Indonesia dan Australia ini berawal pada hari Valentine Day 1979 dan berakhir setelah satu dekade ini akhirnya ditandatangani lah sebuah pernjanjian yang diberi nama TIMOR GAP (Celah Timor), perjanjian di laut Timor yang mirip peti mati ini menjanjikan tiga zona kerjasama. Setiap zona memilki persentasi pembagian yang tidak sama, dimana secara keseluruhan menghasilkan hasil bagi 50 – 50 antara Indonesia dan Australia.
Dari perjanjian eksplorasi minyak dan gas yang ilegal ini di laut Timor ini, sebenarnya Indonesia dan Australia telah mencuri kekayaan rakyat Timor – Timur. Setiap bulanya Indonesia mendapat jatah sebesar 1,8 trilun rupiah. Bayangkan, eskplorasi ini dimulai pada tahun 1989 hingga Indonesia keluar dari Timor-Timur.

Penandatanganan Perjanjian Timor Gap Antara Menlu Indonesia dan Menlu Aussie

Penandatanganan Perjanjian Timor Gap Antara Menlu Indonesia Ali Alatas dan Menlu Aussie Evans

Bersambung…
Author Paul Cleary, dalam bukunya “Shakedown: Australia’s Grab for Timor Oil.”
Dari web: The Australian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s