40 Tahun Peperangan Demi Minyak dan Gas Timor – Bagian-II

40 Tahun Peperangan Demi Minyak dan Gas Timor
Konspirasi Untuk Mengeksplorasi Minyak dan Gas Timor Portugis (Timor-Leste)

The Australian

Bagian-II

 

Kegiatan mata – mata adalah sebuah fitur yang paling mencolok dari negosiasi – negosiasi tersebut. Di dalam buku mereka Oyster, sebuah cerita yang tepat dari Australian Secret Intelligence Service (ASIS) yang mana sekarang telah di terjemahkan dalam bahasa Cina, dalam buku itu, Brian Toohey dan Wiliam Pinwill membantah bahwa kegiatan mata – mata Australia dapat dengan mudah mendapatkan catatan – catatan negosiasi dari pihak Delegasi Indonesia sebelum sebuah pertemuan akan di adakan.
Pada kenyataanya, ketika ditanya untuk menceritakan pencapaian atau keberhasilan-keberhasilan dari organisasi intelijen ASIS ini, salah satu cerita keberhasilan yang mereka catat adalah dari pengumpulan catatan-catatan rahasia sebagai salah satu poin keberhasilanya.

Catatan-Catatan penting negosiasi yang didapatkan oleh para intelijen ASIS dari delegasi Indonesia kemungkinan dilakukan dengan cara menyuap.

Memang, para anggota senior dari tim negosiasi Timor-Leste mengakui dan percaya bahwa salah satu anggotanya berpaling ke ASIS selama negosiasi pada tahun 2004-2005 mengenai ladang minyak terbesar Greater Sunrise.
Salah seorang penasehat yang sangat berpengaruh dari pihak Timor-Leste yang mana sangat bersih kukuh untuk memenangkan Timor-Leste pada tahun 2004 tetapi kemudian mendesak kembali Pemerintah Timor-Leste untuk menyerah pada delegasi Australia dan menyetujui tawaran Austrlia akan pembagian dana minyak yang lebih sedikit dari perjanjian eksplorasi minyak yang besar.

Kisah kisruh dari cerita panjang ini berawal ketika Timor-Leste baru memasuki lima bulan setelah melakukan jajak pendapat yang dimana mayoritas rakyat Timor-Leste memilih untuk memerdekakan diri pada bulan Agustus 1999.
Pada bulan Januari 2000, sebuah delegasi tingkat tinggi Australia pergi ke Dili untuk sebuah misi sepenuhnya yang dianggap seperti Kepentingan Nasional Australia.

Delegasi-Tingkat-Tinggi-Australia-Memakai--TAIS-Timor

Delegasi-Tingkat-Tinggi-Australia-Memakai–TAIS-Timor

Dili dibanjiri oleh personel dan peralatan militer pada waktu itu, setelah milisi pro integrasi pada 30 Agustus 1999 menghancurkan Dili. pada tahun 2000, Dili bagaikan sebuah kota hantu.
Pada saat itu, para penduduk sipil lokal masih tinggal di barak-barak pengunsian di atas bukit-bukit sekitar kota Dili.
Di tengah – tengah kehancuran kota Dili ini, delegasi tingkat tinggi Australia mendarat di Dili dengan tujuan untuk meyakinkan para pemimpin Timor-Leste bahwa mereka harus menerima secara penuh perjanjian minyak dan gas yang mana pemerintah Australia telah bersusah payah selama 10 tahun telah me-negosiasikanya dengan Indonesia.

Di Dili, Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer percaya bahwa orang – orang Timor akan menghormati Perjanjian Timor Gap yang akan ditawarkanya, yang mana perjanjian tersebut terbukti sebagai sebuah asumsi yang tidak realistik, perjanjian yang disiapkan sedemikian cantik dan akan dipresentasikan kepada para pemimpin Timor-Leste ini adalah hasil dari perumusan licik Australia untuk sebuah pendudukan baru di Timor yang tidak sah.
Dipimpin oleh seorang diplomat veteran bernama Michael Potts, delegasi resmi yang terdiri dari Departemen Luar Negeri dan Dagang, Departemen dari Kejaksaan TInggi dan Industri, memesan sebuah ruang konferensi di atas sebuah Kapal Hotel Terapung bernama Olympia. Hanya tempat inilah satu-satunya tempat di Dili pada tahun 2000 yang bisa mengakomodir pertemuan semacam ini. Strategi khusus telah dipersiapan oleh tim Australia ini demi mengecoh para pemimpin Timor-Leste.

Berbekal sebuah laptop dan sebuah PowePoint Projector, Potts dan timya di Hotel Terapung Olympia, menjelaskan secara detail Perjanjian Timor Gap dengan raut muka yang tak berubah dan tidak dalam suasana humor di hadapan para pemimpin Timor-Leste. Dalam suasana panas dan lembab di musim hujan, wajah merah dan berkacamata ini Potts kelihatan sangat panas sekali dan terlihat susah.

Ia mendesak pemimpin – pemimpin Timor-Leste untuk menggantikan nama Indonesia saja dalam perjanjian itu dan menuliskanya kembali dengan nama Timor-Leste dari perjanjian yang telah disepakati dengan Indonesia tersebut. Hanya itu dan tanpa merubah isi dari perjanjian tersebut. Tampak dari salah peserta tersebut adalah, Mari Bim Amude Alkatiri, orang Timor keturunan Yaman dan salah seorang pendiri Partai FRETILIN di tahun 1975, yang baru saja kembali dari negara Mozambique yang mana pada waktu itu turut serta dalam kabinet UN Transitional Administration di Timor-Leste, dan Jose Ramos Horta yang pada saat itu masih menjabat sebagai Wakil Presiden dari organisasi payung kemerdekaan CNRT yang mana setelah itu menjabat sebagai seorang Menteri Luar Negeri Timor-Leste dan juga sebagai Perdana Menteri Timor-Leste.

Mari-Bim-Amude-Alkatiri-Perdana Menteri Timor-Leste Pertama-Saat-Mengkritik-Australia

Mari-Bim-Amude-Alkatiri-Perdana Menteri Timor-Leste Pertama-Saat-Mengkritik-Australia

Pada suatu kesempatan dalam presentasi itu, seorang yang dikenal agak kasar dan merupakan seorang pakar hukum internasional yang bekerja di misi PBB bernama Miguel Galvao-Teles, mengangkat tangan dan berdiri serta berkata kepada para hadirin dan delegasi tingkat tinggi Australia tersebut bahwa mungkin saja delegasi ini lupa untuk mengatakan kepada orang-orang Timor-Leste yang hadir bahwa sangat tidaklah baik Perjanjian Timor Gap tahun 1989 itu ketika dibandingkan dengan hak Timor-Leste dibawah hukum internasional. Timor-Leste pada dasarnya sangatlah dini atau singkat waktunya untuk dapat menandatangani perjanjian ini, ia mengatakan ini kepada para hadirin yang hadir.

Setelah-DiKritik-Oleh-Mari-Alkatiri-Terlihat Salah-Satu Delegasi Australia-Melepaskan-TAIS-Timor-Yang-digantungkan kepadanya.

Setelah-DiKritik-Oleh-Mari-Alkatiri-Terlihat Salah-Satu Delegasi Australia-Melepaskan-TAIS-Timor-Yang-digantungkan kepadanya.

Berpaling dari hak-haknya, implikasi ekonomi dari proposal yang diajukan oleh Australia pada saat itu sangat menganggu orang-orang Timor. Usulan – usulan atau proposal dari Pemerintah AUstralia ini bisa saja menjebak Timor-Leste dan menjadikan negara Timor-Leste sebagai sebuah negara pengemis yang akan sangat tergantung pada bantuan asing, sebuah sketsa skenario oleh Menteri Luar Negeri Australia pada waktu itu, Alexander Downer kepada para wartawan dalam sebuha diskusi di Bali setelah bertemu dengan president Indonesia BJ Habibie.

Harga minyak per barel pada waktu itu mendekati $US 20, satu saja sumber pendapatan Timor-Leste untuk 20 tahun mendatang dan $US 50 juta per tahun atau sekitar $50 per kepala dari total penduduk waktu itu. Dari proposal yang diajukan oleh Australia ini, hanya bisa mengakomodir Timor-Leste 20 persen dari ladang minyak dan gas yang terletak di Laut Timor, yang mana menurut hukum laut internasional sebenarnya ladang minyak dan gas tersebut milik Timor-Leste seutuhnya.

Karena mendapat banyak masukan dari pakar hukum laut internasional pada waktu itu, para Pemimpin Timor-Leste kemudian menolak proposal Australia tersebut.

Kedatangan Galbraith setelah pertemuan di Hotel Terapung ini, untuk membawa kebenaran Amerika untuk mendukung Timor-Leste dalam mengejar keadilan di Laut Timor.
Ia kemudian memarahi lawan – lawanya dari Australia pada suatu kesempatan karena Pemerintah Howard mencoba untuk membungkusnya dan mencoba melengsernya dari peranya dalam misi PBB di Timor-Leste, dan juga dari posisinya sebagai seorang dosen di National War College di Washington. Duta Besar Australia pada waktu itu Michael Thawley mantan penasehat PM Australia Howard mengatakan kepada seorang penasehat yang dikontrak Timor-Leste bernama Jonathan Morrow bahwa ia telah menghabiskan waktunya di Washington hanya untuk melecehkan Galbraith.

Australia kemudian terhimpit di 50 persen (sebenarnya hanya 20%) dari penawaranya untuk Timor-Leste sekurang-kurangya 18 bulan kedepan, akan tetapi tensi tinggi mencapai puncaknya yaitu pada bulan Juni 2011, dalam sebuah pertemuan di Parliament House di Canberra, Menlu Australia Alexander Downer mendesak Ramos Horta untuk berdiri dan keluar meninggalkan ruangan pertemuan.

Akhirnya, di sebuah koridor di Parliament House itu, Downer mengatakan bahwa ia setuju atas permintaan Timor-Leste agar mendapatkan pembagian dari eksplorasi minyak dan gas di salah satu ladang minyak di Laut Timor itu sebesar 90 persen, akan tetapi persetujuan ini hanya berlaku di area yang telah disetujui oleh Australia dan Indonesia pada tahun 1989 yang telah menandatangani Perjanjian Timor-Gap. Perjanjian itu ditandatangani oleh Menlu Indonesia pada waktu itu Ali Alatas di atas pesawat terbang bersama Menlu Australia saat menuju kembali ke Jakarta dari Australia tahun 1989.
Proposal Australia yang sebelumnya ingin membagi hasil eksplorasi sebesar 50-50 (sebenarnya hanya 20% untuk Timor-Leste) akhirnya berubah menjadi 90% untuk Timor-Leste dan 10% untuk Australia. Pembagian ini hanya untuk ladang minyak yang bernama BAYU UNDAN. Ladang minyak ini diberi nama oleh Indonesia pada waktu itu, dan sampai sekarang masih aktif di eksplorasi.

Bersambung…
Author Paul Cleary, dalam bukunya “Shakedown: Australia’s Grab for Timor Oil.”
Dari web: The Australian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s