40 Tahun Peperangan Demi Minyak dan Gas Timor-Bagian-III (Habis)

40 Tahun Peperangan Demi Minyak dan Gas Timor
Konspirasi Untuk Mengeksplorasi Minyak dan Gas Timor Portugis (Timor-Leste)

The Australian

Bagian-III (Habis)

Timor-Leste di desak untuk melakukan beberapa konsensi penting. Apa yang kemudian diketahui sebagai Perjanjian Laut Timor (Timor Sea Treaty) yaitu dikeluarkanya zona utara dan selatan dari Zona Kerjasama (Zone of Co-operation) dengan Indonesia dan tidak memasukan zona yang paling kaya akan sumber-sumbernya di zona Timur dan Barat. Di Zona barat tersebut, saat ini dikelola oleh perusahaan minyak Amerika Serikat, ConnocoPhilips. Di dalam perjanjian Timor Sea Treaty ini sewaktu ditanda tangani oleh Indonesia dan Australia pada tahun 1989, area potensi dan kaya di bagian Barat dan Timur, secara sengaja tidak dituliskan
di dalam perjanjian ini. Justru Australia memasukan zona yang paling minim sumber kekayaanya yaitu zona Utara dan Selatan di dalam perjanjian itu, karena pada waktu itu Indonesia tidak tahu maka ditandatangani saja.

Pada saat ini, Timor-Leste bisa dikatakan mendapatkan 90 persen dari zona kerjasama, akan tetapi untuk zona yang lebih besar sumber kekayaanya yaitu di zona GREATER SUNRISE (zona bagian barat), Timor-Leste hanya mendapatkan 18 persen saja karena didasarkan pada perjanjian antara Indonesia dan AUstralia pada tahun 1989 yang di tanda tangani oleh Ali Alatas dan Menlu Australia pada waktu itu.

 Greater-Sunrise-18-persenya-Di-Area-JPDA-Menurut-Australia-Timor-Sea


Greater-Sunrise-18-persenya-Di-Area-JPDA-Menurut-Australia-Timor-Sea

Persetujuan ini dimaksudkan hanya bersifat sementara pada awalnya. Perjanjian ini juga telah dinegosiasikan oleh UNTAET (misi PBB di Timor-Leste) dengan Australia, di dalam salah satu pasal dalam perjanjian tersebut secara tegas mengatakan bahwa, persetujuan ini bisa saja batal atau invalid bila SEBUAH PERBATASAN LAUT telah disetujui bersama oleh kedua negara. Akan tetapi, AUstralia berharap bahwa perjanjian ini menjadi perjanjian paling akhir di Laut TImor.

Pada hari PEMULIHAN KEMERDEKAAN Timor-Leste yaitu tanggal 20 Mei 2002, Timor-Leste meletakan tawaranya pada penyelesaian yang adil di Rumah Parlemen (direnovasi dengan dana bantuan Australia), Pemerintah Baru Timor-Leste kemudian secara langsung memprioritaskan pembahasan masalah ini dimana para anggota parlemen mendeklarasikan hak-hak negara Timor-Leste dibawah Hukum Internasional dalam menentukan Batas Maritim. Dibawah perjanjian Laut Timor ini, sebuah perjanjian terpisah untuk ladang minyak dan gas GREATER SUNRISE karena ladang minyak dan gas ini terbentang masuk dalam Area Perjanjian yang telah disetujui dalam TIMOR SEA TREATY.

 

Menlu Australia-Alexander Downer -Dalam-Wawancara dengan Stasion TV-ABC

Menlu Australia-Alexander Downer -Dalam-Wawancara dengan Stasion TV-ABC

Di dalam sebuah pertemuan di bulan November 2002, Downer, menekan Timor-Leste untuk menerima tawaran 18 persen dari ladang gas dan minyak ini dengan mengatakan dengan nada keras: “Kita tidak perlu mengeksploitasi sumber-sumber ini. Mereka bisa saja tinggal disitu untuk 20, 40, 50 tahun kedepan. Kami tidak suka menyerempet bahaya dan bisa saja perang. Kami sangatlah kuat. Kami tidak peduli jika kalian membeberkan ini kepada para media. Mari saya ajarkan politik pada anda, bukan sebuah kesempatan.”

Akan tetapi Timor-Leste meneruskan tekananya kepada Australia untuk mencari keadilan, dan hal ini terjadi karena beberapa orang Australia yang bersikap baik, mengirimkan pesan ” fair go” kepada Pemerintah Howard.

Rig-Pengeboran-Bayu-Undan-di-Laut-Timor

Rig-Pengeboran-Bayu-Undan-di-Laut-Timor

Pada akhirnya, upaya-upaya akhir yang baik untuk penyelesaian dengan pembagian 50 – 50 untuk ladang minyak dan gas GREATER SUNRISE terlihat tidak dapat menolong situasi ini juga, walaupun efektif, kampanye iklan yang dilakukan oleh Ian Melrose, seorang businessman dari Melbourne, yang telah memahami masalah-masalah ini setelah ia membaca sebuah surat kabar tentang seorang anak perempuan Timor-Leste yang meninggal dunia akibat cacingan. Hidupnya bisa saja terselamatkan dengan mengkonsumsi tablet 10c. Salah satu iklanya yaitu tentang para veteran Perang Dunia Ke-2 yang mengatakan bahwa, mereka berhutang nyawa kepada para penduduk Timor-Leste karena telah membantu mereka pada Perang Dunia ke-2.

Berikut ini saya juga mengulas singkat tentang Veteran AUstralia pada PErang Dunia ke-2 di Timor-Portugis:


Perlu di ketahui bahwa, Australia juga pernah menduduki Timor-Leste di bulan Desember 1941 pada masa Perang Dunia ke-II. Mendaratnya pasukan Australia yang dibantu oleh pasukan khusus Inggris di Timor-Leste tersebut sebagai upaya negeri Kanguru untuk membendung agresi tentara Samurai Japan yang ingin menyerang Australia. Jadi logikanya, tentara Australia yang jumlahnya tidak terlalu banyak ingin memperlambat  pergerakan tentara Jepang menuju ke Australia. Pendaratan tentara Australia dan Inggris di Timor-Leste tersebut memancing tentara Jepang untuk mendarat di Timor-Leste. Pertempuran sengit tidak dapat dihindarkan lagi. Antara tahun 1942 – 1945, tentara Jepang melakukan kebrutalan terhadap  penduduk sipil Timor-Leste.

Pada masa perang tersebut, banyak warga sipil Timor-Leste bergabung dengan tentara Australia untuk kemudian bersama-sama berperang melawan tentara Jepang. Korban perang dari pihak Timor-Leste mencapai 40.000 hingga 60.000 jiwa, sedangkan dari pihak Australia hanya 40 jiwa.
Pada saat pendaratan tentara Jepang di Timor-Portugis, Pemerintahan Portugal melarikan diri ke Pulau Atauro, yaitu sebuah pulau yang berjarak sekitar 35 KM dari ibukota Dili. “

FILM DI BAWAH INI, AUSTRALIA DI TIMOR PORTUGIS TAHUN 1940an

Akan tetapi persengketaan tersebut berubah menjadi masalah besar bagi Pemerintahan Pertama Timor-Leste yang di komandai oleh Mari Alkatiri sebagai Perdana Menteri. Masalah ini hampir menjerumuskan Timor-Leste dalam perang saudara.
Pada tahun 2006, Mari Alkatiri digulingkan oleh demonstrasi besar-besaran anti pemerintah. Awal masalahnya, Mayor Alfredo Reinaldo (mantan tentara marinir Australia) melancarkan pemberontakan untuk mengulingkan pemerintahan FRETILIN yang dipimpin oleh Mari Bim Amude Alkatiri.
Pemerintahan Alkatiripun akhirnya jatuh. Setelah Mari Alkatiri mundur dari jabatanya sebagai Perdana Menteri, Ramos Horta kemudian ditunjuk untuk menggantikan posisinya untuk sementara waktu sebelum Pemilihan Umum digulirkan.
Di saat krisis tersebut, Downer dan Howard tiba di Dili dan menawarkan perjanjian Laut Timor yang baru dan Timor-Leste tidak ada pilihan lain selain menandatangani perjanjian baru yang disodorkan, sebuah perjanjian yang bernama CMATS (Certain Maritime Arrangements in the Timor Sea). Dalah sebuah pasal didalam perjanjian tersebut menuliskan ” Kedua negara tidak boleh membicarakan masalah batas laut hingga 50 tahun kedepan, terhitung dari perjanjian ini di tandatangani.”

Seorang ahli hukum laut yang diundang oleh Pemerintah Timor-Leste setelah mempelajari CMATS tersebut, menggambarkan posisi Timor-Leste di perjanjian mengenai ladang minyak dan gas ini, seperti seseorang yang telah diikat kedua tangan dan kakinya.
Ketika Woolcott melancarkan sebuah diskusi tentang riset mengenai persengketaan ini yang dilakukan oleh Pastor Jesuit Frank Brennan, ia mengatakan Timor-Leste adalah sebuah negara fragile (mudah pecah konflik) dan Australia perlu mendorongya dari belakang untuk menggabungkan kemerdekaan Timor-Leste ini dan memelihara institusi-institusinya yang rentang.

Author Paul Cleary, dalam bukunya “Shakedown: Australia’s Grab for Timor Oil.”
Dari web: The Australian
Catatan dari saya

Ketika Timor-Timur berjuang keras untuk memerdekakan diri dari cengkeraman negara besar Indonesia dan AUstralia, hanya Portugal lah yang menghabiskan waktunya untuk membantu Timor-Leste di kancah Internasional. Amerika Serikat sengaja mendiamkan masalah TImor-TImur dan berpura-pura tidak tahu.

Resolusi-resolusi tentang Timor-Leste ada yang pernah dari Negara Aljajair. Dan resolusi-resolusi ini hanya mendapat dukungan dari negara-negara kecil saja. China karena Tibet, dan negara-negara ASEAN, karena menjaga hubungan baiknya dengan Indonesia, menolak semua resolusi tersebut.

Timor-Timur kemudian berjuang sendiri dengan dukungan dana seadanya dari Portugal dan negara-negara anggota CPLP (negara-negara berbahasa Portugis) akhirnya bisa merdeka melalui Jajak Pendapat yang berlangsung secara terbuka dan Jujur, dimana mayoritas rakyat TImor-Timur memilih keluar dari apa yang disebut sebagai aneksasi ilegal kedalam tubuh negara Indonesia.

Amerika dan Australia yang pada mulanya memberikan dukungan politik dan mesin perang kepada Indonesia untuk menginvansi Timor-Portugis akhirnya menyerah juga pada tuntutan Internasional untuk menarik dukunganya dari Indonesia. Pada tahun 1999, untuk menutupi tindak – tanduknya, Amerika kemudian mengembargo peralatan militer untuk Indonesia dan Australia mengirimkan pasukanya untuk mengamankan Dili dari amukan masa pro-integrasi bentukan Prabowo.

Dan pada akhirnya, rakyat Timor-Leste lah yang menanggung semua beban dan penderitaan dari agresi negara-negara besar yang hanya memikirkan kepentinganya.

Salam,

Maubere.

2 thoughts on “40 Tahun Peperangan Demi Minyak dan Gas Timor-Bagian-III (Habis)

  1. Salam damai dari Manado Indonesia..Sedih membaca artikel ini, tapi apa mau dikata,Andai soeharto tak menyerbu maka tidak akan ada peperangan yang membuat penderitaan berkepanjangan diantara kedua bangsa ini.. Tiga orang paman saya pulang selamat setelah bertugas di TIMLES , hal ini bukan sebuah kebetulan tapi adalah kasih Tuhan sebab mereka tak punya hutang darah selama mereka bertugas sebagai TNI AD ..sekarang saudaraku, marilah kita berpikir jauh kedepan , melangkah maju demi masa depan yang lebih baik.. Terakhir kalau boleh saya saran maka jangan biarkan Australia menguasai ladang minyakmu sama seperti Amerika menghisap ladang minyak Indonesia karena itulah tujuan dari bangsa Kapitalis..Gunakanlah minyak sebagai sumber kemakmuran rakyat TIMLES..hidup Timles..

  2. saya juga salut dengan perjuangan rakyat timor leste, walupun saya tahun 1987 s/d 1993 pernah tugas di zumalai Kabupaten ainaro sekarang masuk kabupaten suai kovalima, sebagai polisi dan ikut membantu mengajar anak SMP persiapan di Zumalai selama 3 tahun. waktu itu saya senang mengajar dengan sukarela walaupun dengan kesederhanaan dan fasilitas yang seadanya tapi semangat anak-anak untuk belajar sangat tinggi, saya salut kepada generasi muda timor leste yang selalu bersemangat untuk maju, terus terang saya terkenang dan rindu akan timorleste bahkan lagu timorpun masih saya simpan, sewaktu-waktu mudah mudahan saya bisa berkunjung ketimor leste, obrigado barak,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s