Memata-Matai Timor-Leste Oleh Damien Kingsbury -Bagian II

Memata-Matai Timor-Leste

Oleh Damien Kingsbury

Bagian-II

Menteri Luar Negeri Australia, Gareth Evans dan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas secara diam-diam menandatangani Timor Gap Treaty di atas pesawat terbang-1989-02

Menteri Luar Negeri Australia, Gareth Evans dan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas secara diam-diam menandatangani Timor Gap Treaty di atas pesawat terbang-1989-02

Perjanjian CMATS secara efektik hanya mencatatkan kembali persetujuan yang telah ada, di tahun 1971 dan 1972 bersama Indonesia. Persetujuan-persetujuan ini menentukan sebuah batasan teritorial sepanjang Kontinental Shelf Australia, dimana meletakan perbatasan lebih dekat ke Indonesia daripada Australia. Perjanjian ini berdasarkan pada
Konvensi Hukum Laut tahun 1958.

Akan tetapi, Indonesia juga kemudian keberatan dengan perjanjian penentuan perbatasan laut seperti yang diusulkan oleh Australia yang berdasarkan pada Kontinental Shelf. Menteri Luar Negeri Mocthar Kusumaatmadja mengatakan bahwa perjanjian ini adalah perjanjian yang mana Indonesia “telah bawa ke pembersih.” Akan tetapi, perbatasan yang telah disepakati tidak boleh berubah.

 

Peta-Lengkap-Dari-Perjanjian-Perjanjian-di-laut-Timor

Peta-Lengkap-Dari-Perjanjian-Perjanjian-di-laut-Timor

Portugal, penguasa kolonial di Timor-Leste pada waktu itu, tidak mengambil bagian dalam diskusi-diskusi penentuan perbatasan. Dari segi itu saja, telah meninggalkan sebuah “celah” di perbatasan, bila dikaitkan dengan penguasa teritorial Portugal.

Segera setelah Indonesia menginvansi Timor Portugis, Australia dengan cepat memulai kembali diskusi-diskusi dengan Indonesia mengenai penutupan “celah” itu. Pada saat itu, Konvensi Hukum Laut telah berjalan. Pada tahun 1982, argumen – argumen Australia mengenai “Kontinental Shelf” diganti dengan konvensi batas laut dimana dengan cara mengukur sama jauh dari pantai masing-masing negara penuntut; yang mana lebih di kenal dengan nama prinsip “Median Line”. Melihat pada dua perjanjian yang telah ditanda-tangani dengan Indonesia termasuk argumen “Median Line”, dan juga kedua negara sama-sama mengetahui sumber-sumber potensial minyak dan gas di Laut Timor, kedua negara kemudian menemukan persetujuan bersama eksplorasi kekayaan Laut Timor dengan menandatangani Perjanjian Timor Gap (Timor Gap Treaty).

Menteri Luar Negeri Australia, Gareth Evans dan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas secara diam-diam menandatangani Timor Gap Treaty di atas pesawat terbang-1989

Menteri Luar Negeri Australia, Gareth Evans dan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas secara diam-diam menandatangani Timor Gap Treaty di atas pesawat terbang-1989

Dari perjanjian Timor Gap Treaty ini, hanya mengalokasikan lebih kecil income dari “celah” ini untuk Indonesia, porsi lebih besar untuk dikelola bersama dan dibagai bersama, dan porsi lebih besar di area selatan hanya untuk Australia saja. Perjanjian ini tetap saja tidak sama dalam prinsip Median Line, akan tetapi perjanjian ini juga tidak sedikit pun merubah taktik Australia di perjanjian sebelumnya dengan Indonesia yaitu perjanjian tahun 1972 tentang “Kontinental Shelf” yang mana juga memberikan sedikit sumber pendapatan dari “celah” untuk Indonesia.

Fotographer-Dari-Masing-Masing-Kementrian-Sedang-Mengambil-Gambar-Penandatangan-Timor-Gap-Treaty-1989

Fotographer-Dari-Masing-Masing-Kementrian-Sedang-Mengambil-Gambar-Penandatangan-Timor-Gap-Treaty-1989

Pada masa akhir melengkapi perjanjian di Laut Timor itu dengan Indonesia, Menteri Luar Negeri Australia, Gareth Evans dan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas secara diam-diam menandatangani Timor Gap Treaty di atas pesawat terbang sambil merayakanya dengan bersulang gelas Champaigne, dan pesawat terbang diatas Laut Timor menuju ke Indonesia. Akan tetapi, pengembangan dari sumber-sumber di “Celah” tersebut baru saja akan dilakukan ketika masyarakat Timor-Leste sedang memberikan hak pilihnya untuk memilih merdeka atau menerima paket otonomi luas dari Indonesia pada tahun 1999.

Bertepuk-Tangan-Setelah-Penandatanganan-Timor-Gap-Treaty-Antara Menlu Indonesia Ali Alatas dan Menlu Aussie Gareth Evans-1989

Bertepuk-Tangan-Setelah-Penandatanganan-Timor-Gap-Treaty-Antara Menlu Indonesia Ali Alatas dan Menlu Aussie Gareth Evans-1989

Pada masa – masa diskusi batas laut dengan Indoesia tersebut, Australia sering kali menghalangi atau menolak setiap resolusi di PBB yang bertujuan untuk diadakanya referendum di Timor Portugis, dan Australia sering mengeluarkan pernyataan melalui Menlu Downer bahwa Timor-Timur adalah bagian dari NKRI.

Bersulang-Gelas-Sampanye-Setelah-Penandatanganan-Perjanjian-Timor-Gap-Diatas-Pesawat-Terbang-1989

Bersulang-Gelas-Sampanye-Setelah-Penandatanganan-Perjanjian-Timor-Gap-Diatas-Pesawat-Terbang-1989

Ketika Indonesia menarik ulur waktu untuk diskusi penentuan batas laut dengan Australia, maka Downer akan mengatakan kepada pers Australia bahwa Timor-Timur bukanlah bagian dari NKRI.

Berjabat-Tangan-Didalam-Pesawat-Terbang-Usai-Penandatanganan-Perjanjian-Timor-Gap-Treaty-1989

Berjabat-Tangan-Didalam-Pesawat-Terbang-Usai-Penandatanganan-Perjanjian-Timor-Gap-Treaty-1989

Bersambung….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s