Inilah Sebab Indonesia, Menduduki Timor-Timur

Diterjemahkan Oleh: Maubere

Judul Asli:

OIL, GAS AND SPY GAMES IN THE

TIMOR SEA

Australian scheming for the Greater Sunrise oilfield has a long history by K i m McGrath

March, 2014

Versi asli oleh authornya dipublikasikan di website: http://www.themonthly.com.au/issue/2014/april/1396270800/kim-mcgrath/oil-gas-and-spy-games-timor-sea

 

Oil-Gas-and Spy Games in the Timor Sea by Kim McGrath-Maret 2014

Oil-Gas-and Spy Games in the Timor Sea by Kim McGrath-Maret 2014

Pada bulan Desember tahun 2013 lalu, Perdana Menteri Timor -Leste, Xanana Gusmão, sedang melakukan kunjungan resmi ke negara terbaru di dunia Benua Afrika yaitu Sudan Selatan, ketika ia menerima panggilan mendesak dari Dili. Petugas dari Organisasi Intelijen Keamanan Australia dan Kepolisian Federal Australia baru saja mengambil file dan komputer dari kantor Bernard Collaery yang berlokasi di Canberra, Australia, ia adalah salah satu pengacara sekaligus penasehat negara Timor – Leste dalam persengketaan  dengan Australia melalui perjanjian yang membagi rampasan dari $ 40.000.000.000 USD dari ladang minyak dan gas yang bernama Greater Sunrise.

Gusmão diberitahu bahwa ada serangan secara tiba-tiba di Canberra ke rumah saksi kunci rahasia Timor – Leste dalam sengketa dengan Australia tersebut. Mantan Agen Rahasia dari Secret Service Intelligence ( ASIS ) Australia ini, sempat mengabarkan sebuah pernyataan tertulis yang menyatakan bahwa mata-mata Australia telah menyadap ruang rapat kabinet pemerintahan Timor – Leste dalam rangka untuk mengamankan keuntungan komersial yang lebh banyak bagi Australia selama negosiasi perjanjian pada tahun 2004 berlangsung. Paspornya juga telah disita dalam serangan tiba-tiba ini, sekaligus mencegah dia untuk bepergian ke Den Haag-Belanda di mana Pengadilan Tetap Arbitrase berada karena Australia mendengar bahwa, Timor – Leste telah menyerahkan permohonan siding untuk membatalkan perjanjian yang telah ditanda-tanggani dengan Australia karena Australia telah melanggar salah satu pasal dalam perjanjian tersebut dimana dalam perjanjian tersebut tertulis, “Kedua Negara harus menekan perjanjian ini dengan cara-cara yang bersifat GOOD FAITH”.

Suasana-Sidang-Di-Pengadilan-Tinggi-PBB-Pada Tanggal 22 January 2014-Di Den Hague-Belanda

Suasana-Sidang-Di-Pengadilan-Tinggi-PBB-Pada Tanggal 22 January 2014-Di Den Hague-Belanda

Gusmão menggambarkan serangan fajar tersebut sebagai “perilaku idiot dan tidak bisa diterima “. Pengacara untuk negaranya menuntut agar dikembalikanya secaracepat dokumen-dolumen yang telah disita oleh ASIO tersebut; ketika Australia menolak untuk mengembalikanya, Timor -Leste meminta digelarnya sidang untuk mendesak Australia di Mahkamah Internasional di Den Haag.
Continue reading

Advertisements

Memata-Matai Timor-Leste Oleh Damien Kingsbury -Bagian II

Memata-Matai Timor-Leste

Oleh Damien Kingsbury

Bagian-II

Menteri Luar Negeri Australia, Gareth Evans dan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas secara diam-diam menandatangani Timor Gap Treaty di atas pesawat terbang-1989-02

Menteri Luar Negeri Australia, Gareth Evans dan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas secara diam-diam menandatangani Timor Gap Treaty di atas pesawat terbang-1989-02

Perjanjian CMATS secara efektik hanya mencatatkan kembali persetujuan yang telah ada, di tahun 1971 dan 1972 bersama Indonesia. Persetujuan-persetujuan ini menentukan sebuah batasan teritorial sepanjang Kontinental Shelf Australia, dimana meletakan perbatasan lebih dekat ke Indonesia daripada Australia. Perjanjian ini berdasarkan pada
Konvensi Hukum Laut tahun 1958.

Akan tetapi, Indonesia juga kemudian keberatan dengan perjanjian penentuan perbatasan laut seperti yang diusulkan oleh Australia yang berdasarkan pada Kontinental Shelf. Menteri Luar Negeri Mocthar Kusumaatmadja mengatakan bahwa perjanjian ini adalah perjanjian yang mana Indonesia “telah bawa ke pembersih.” Akan tetapi, perbatasan yang telah disepakati tidak boleh berubah.

 

Peta-Lengkap-Dari-Perjanjian-Perjanjian-di-laut-Timor

Peta-Lengkap-Dari-Perjanjian-Perjanjian-di-laut-Timor

Portugal, penguasa kolonial di Timor-Leste pada waktu itu, tidak mengambil bagian dalam diskusi-diskusi penentuan perbatasan. Dari segi itu saja, telah meninggalkan sebuah “celah” di perbatasan, bila dikaitkan dengan penguasa teritorial Portugal.

Continue reading

Memata-Matai Timor-Leste Oleh Damien Kingsbury -Bagian I

Memata-Matai Timor-Leste

Oleh Damien Kingsbury

Bagian-I

Dibutuhkan beberapa bulan untuk memainkannya, tetapi Australia akhirnya didepan Pengadilan Internasional untuk memutuskan
apakah boleh atau tidak, telah bertindak secara resmi dalam menciptakan pembagian di Laut Timor dengan Timor-Leste. Untuk saat ini, taruhanya adalah Perbatasan Teritorial antara Australia dan Timor-Leste dan maka dari itu, mengontrol juga miliran dollar dari sumber-sumber minyak dan gas.

Melihat kembali ke tahun 2000, ketika Timor-Leste sedang dalam tahap membangun kembali dari reruntuhan infrasktrukturnya dan sedang mempersiapkan diri untuk mendeklarasikan pemulihan hari kemerdekaanya, Australia mendesak untuk tetap pada pendirianya dalam Perjanjian Timor Gap (Timor Gap Treaty), yang mana secara buruk telah disetujui dengan Indonesia pada tahunn 1989.

Peta-Lengkap-Dari-Perjanjian-Perjanjian-di-laut-Timor

Peta-Lengkap-Dari-Perjanjian-Perjanjian-di-laut-Timor

Perjanjian ini adalah bagian dari persetujuan diam-diam Australia untuk mendukung Pendudukan Brutal Indonesia pada tahun 1975 dan selanjutnya menduduki Timor-Leste, yang mana akibatnya lebih dari sepertiga penduduk Timor-Leste tewas, hal ini secara khusus sangat menyakiti Timor-Leste.

Bahkan Timor-Leste pada waktu itu belum membentuk pemerintahan, Australia telah mendesak dirinya untuk mengejar kepentingan-kepentingan nasionalnya. Kepentingan-kepentingan tersebut adalah Teritorial dan Komersial. Akan tetapi ada juga kepentingan pribadi.

Tokoh yang memimpin kasus Australia pada waktu itu adalah Menteri Luar Negeri AUstralia, Alexander Downer.

Continue reading

40 Tahun Peperangan Demi Minyak dan Gas Timor – Bagian-II

40 Tahun Peperangan Demi Minyak dan Gas Timor
Konspirasi Untuk Mengeksplorasi Minyak dan Gas Timor Portugis (Timor-Leste)

The Australian

Bagian-II

 

Kegiatan mata – mata adalah sebuah fitur yang paling mencolok dari negosiasi – negosiasi tersebut. Di dalam buku mereka Oyster, sebuah cerita yang tepat dari Australian Secret Intelligence Service (ASIS) yang mana sekarang telah di terjemahkan dalam bahasa Cina, dalam buku itu, Brian Toohey dan Wiliam Pinwill membantah bahwa kegiatan mata – mata Australia dapat dengan mudah mendapatkan catatan – catatan negosiasi dari pihak Delegasi Indonesia sebelum sebuah pertemuan akan di adakan.
Pada kenyataanya, ketika ditanya untuk menceritakan pencapaian atau keberhasilan-keberhasilan dari organisasi intelijen ASIS ini, salah satu cerita keberhasilan yang mereka catat adalah dari pengumpulan catatan-catatan rahasia sebagai salah satu poin keberhasilanya.

Catatan-Catatan penting negosiasi yang didapatkan oleh para intelijen ASIS dari delegasi Indonesia kemungkinan dilakukan dengan cara menyuap.

Memang, para anggota senior dari tim negosiasi Timor-Leste mengakui dan percaya bahwa salah satu anggotanya berpaling ke ASIS selama negosiasi pada tahun 2004-2005 mengenai ladang minyak terbesar Greater Sunrise.
Salah seorang penasehat yang sangat berpengaruh dari pihak Timor-Leste yang mana sangat bersih kukuh untuk memenangkan Timor-Leste pada tahun 2004 tetapi kemudian mendesak kembali Pemerintah Timor-Leste untuk menyerah pada delegasi Australia dan menyetujui tawaran Austrlia akan pembagian dana minyak yang lebih sedikit dari perjanjian eksplorasi minyak yang besar.

Kisah kisruh dari cerita panjang ini berawal ketika Timor-Leste baru memasuki lima bulan setelah melakukan jajak pendapat yang dimana mayoritas rakyat Timor-Leste memilih untuk memerdekakan diri pada bulan Agustus 1999.
Pada bulan Januari 2000, sebuah delegasi tingkat tinggi Australia pergi ke Dili untuk sebuah misi sepenuhnya yang dianggap seperti Kepentingan Nasional Australia.

Delegasi-Tingkat-Tinggi-Australia-Memakai--TAIS-Timor

Delegasi-Tingkat-Tinggi-Australia-Memakai–TAIS-Timor

Dili dibanjiri oleh personel dan peralatan militer pada waktu itu, setelah milisi pro integrasi pada 30 Agustus 1999 menghancurkan Dili. pada tahun 2000, Dili bagaikan sebuah kota hantu.
Pada saat itu, para penduduk sipil lokal masih tinggal di barak-barak pengunsian di atas bukit-bukit sekitar kota Dili.
Di tengah – tengah kehancuran kota Dili ini, delegasi tingkat tinggi Australia mendarat di Dili dengan tujuan untuk meyakinkan para pemimpin Timor-Leste bahwa mereka harus menerima secara penuh perjanjian minyak dan gas yang mana pemerintah Australia telah bersusah payah selama 10 tahun telah me-negosiasikanya dengan Indonesia.

Di Dili, Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer percaya bahwa orang – orang Timor akan menghormati Perjanjian Timor Gap yang akan ditawarkanya, yang mana perjanjian tersebut terbukti sebagai sebuah asumsi yang tidak realistik, perjanjian yang disiapkan sedemikian cantik dan akan dipresentasikan kepada para pemimpin Timor-Leste ini adalah hasil dari perumusan licik Australia untuk sebuah pendudukan baru di Timor yang tidak sah.
Dipimpin oleh seorang diplomat veteran bernama Michael Potts, delegasi resmi yang terdiri dari Departemen Luar Negeri dan Dagang, Departemen dari Kejaksaan TInggi dan Industri, memesan sebuah ruang konferensi di atas sebuah Kapal Hotel Terapung bernama Olympia. Hanya tempat inilah satu-satunya tempat di Dili pada tahun 2000 yang bisa mengakomodir pertemuan semacam ini. Strategi khusus telah dipersiapan oleh tim Australia ini demi mengecoh para pemimpin Timor-Leste.

Berbekal sebuah laptop dan sebuah PowePoint Projector, Potts dan timya di Hotel Terapung Olympia, menjelaskan secara detail Perjanjian Timor Gap dengan raut muka yang tak berubah dan tidak dalam suasana humor di hadapan para pemimpin Timor-Leste. Dalam suasana panas dan lembab di musim hujan, wajah merah dan berkacamata ini Potts kelihatan sangat panas sekali dan terlihat susah.

Ia mendesak pemimpin – pemimpin Timor-Leste untuk menggantikan nama Indonesia saja dalam perjanjian itu dan menuliskanya kembali dengan nama Timor-Leste dari perjanjian yang telah disepakati dengan Indonesia tersebut. Hanya itu dan tanpa merubah isi dari perjanjian tersebut. Tampak dari salah peserta tersebut adalah, Mari Bim Amude Alkatiri, orang Timor keturunan Yaman dan salah seorang pendiri Partai FRETILIN di tahun 1975, yang baru saja kembali dari negara Mozambique yang mana pada waktu itu turut serta dalam kabinet UN Transitional Administration di Timor-Leste, dan Jose Ramos Horta yang pada saat itu masih menjabat sebagai Wakil Presiden dari organisasi payung kemerdekaan CNRT yang mana setelah itu menjabat sebagai seorang Menteri Luar Negeri Timor-Leste dan juga sebagai Perdana Menteri Timor-Leste.

Mari-Bim-Amude-Alkatiri-Perdana Menteri Timor-Leste Pertama-Saat-Mengkritik-Australia

Mari-Bim-Amude-Alkatiri-Perdana Menteri Timor-Leste Pertama-Saat-Mengkritik-Australia

Pada suatu kesempatan dalam presentasi itu, seorang yang dikenal agak kasar dan merupakan seorang pakar hukum internasional yang bekerja di misi PBB bernama Miguel Galvao-Teles, mengangkat tangan dan berdiri serta berkata kepada para hadirin dan delegasi tingkat tinggi Australia tersebut bahwa mungkin saja delegasi ini lupa untuk mengatakan kepada orang-orang Timor-Leste yang hadir bahwa sangat tidaklah baik Perjanjian Timor Gap tahun 1989 itu ketika dibandingkan dengan hak Timor-Leste dibawah hukum internasional. Timor-Leste pada dasarnya sangatlah dini atau singkat waktunya untuk dapat menandatangani perjanjian ini, ia mengatakan ini kepada para hadirin yang hadir.

Setelah-DiKritik-Oleh-Mari-Alkatiri-Terlihat Salah-Satu Delegasi Australia-Melepaskan-TAIS-Timor-Yang-digantungkan kepadanya.

Setelah-DiKritik-Oleh-Mari-Alkatiri-Terlihat Salah-Satu Delegasi Australia-Melepaskan-TAIS-Timor-Yang-digantungkan kepadanya.

Continue reading